Saturday, December 13, 2008

UNDANGAN PELUNCURAN BUKU "ANDAI PRESIDEN KITA SEHEBAT HARRY POTTER"

Orang muda berbicara tentang Presiden harapan mereka. seperti apa jadinya? Apakah Presiden Indonesia harus seperti seorang Harry Potter? Tokoh rekaan J.K Rowling ini digambarkan mampu melakukan hal-hal luar biasa dengan tongkat sihirnya. JIka Presiden Indonesia punya tongkat sihir, akan seperti apa negeri ini? Mungkin para koruptor akan lenyap dari bumi pertiwi, karena langsung dikirim ke Azkaban, penjara manakutkan dalam dunia sihir. Atau mungkin tidak perlu ada orang yang mengeluhkan biaya kesehatan yang mahal, karena sekali ayun, si tongkat sihir mampu menyembuhkan segala penyakit. Yang pasti, sah-sah saja orang muda punya sosok ideal untuk RI 1.

Buku ini mencoba merangkum segelintir suara orang muda tentang Presiden 2009 menurut pemikiran mereka. Kepekaan terhadap realita dan perkembangan masyarakat sehari-hari, menjadi modal untuk merumuskan harapan akan pemimpin Indonesia dalam bahasa khas anak muda.


Agenda 18, sebuah kelompok penulis muda berbasis pluralitas, dengan ini mengundang Anda untuk hadir dalam peluncuran buku ke-2 kami:


Diskusi dan Peluncuran Buku "Andai Presiden Sehebat Harry Potter"
Penulis: Kelompok Penulis Muda Agenda 18
Tempat: Newseum Cafe
Jl. Veteran I No.32, jakarta Pusat
(Belakang Hotel Sriwijaya, deretan Es Krim Ragusa dan Dapur Baba)

Waktu: Sabtu, 20 Desember 2008
14.30 - 16.30 WIB
Moderator: Ignatius Haryanto
Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (www.lspp.org)
Pembicara:
* Fadjroel Rachman, pengamat politik (www.fadjroelrachman.com)
* Antonio Pradjasto, peneliti DEMOS (www.demosindonesia.org)
* Roy Thaniago, perwakilan Penulis Agenda 18 (www.agenda18.co.nr)
Hiburan: Endah N Rhesa (www.endahnrhesa.com)
endah n'rhesa adalah duo gitar-vokal dan bass dengan konsep akustik minimalis modern.

Acara:
1. Seremonial peluncuran buku "Andai Presiden Sehebat Harry Potter"
2. Diskusi buku dengan pembicara Fadjroel Rachman, Antonio Pradjasto dan Roy Thaniago.
3. Door prize.

Untuk informasi dan reservasi**, silakan hubungi:
Hanni (0852 104 39993 / 021 989 576 51
Vikthoria (0812 90 437 99)
Email: agendadelapanbelas@gmail.com

**
Batas akhir reservasi: 17 Desember 2008
acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya

Sekilas tentang buku "ANDAI PRESIDEN KITA SEHEBAT HARRY POTTER"
Daftar isi:
1. kata pengantar: Ignatius Haryanto
2. Roy Thaniago: Selamat Pagi Mas Presiden
3. Agnes Rita: Apa Iya Kita Butuh Presiden?
4. Theresia Hanni Christania: Minggir dong!! Presiden Mau Lewat!!
5. Anton Lunardi: Dicari: Seorang Superhero untuk Jadi Presiden
6. Sigit Kurniawan: Orang Bodoh Dilarang Jadi Presiden
7. Christa Sabathaly: Kalau Presiden Punya Facebook
8. Sri Maryanti: Dicari: Presiden dan Wapres yang Sensitif Perempuan
9. Elsye Christieyani Susanto: Andai Presiden Kita Mau Nongkrong di Terminal
10. Berto Tukan: Andai Presiden Kita Sehebat Harry Potter
11. Vikthoria Gabriel: Susahnya Membuang Keringat di Ibukota
12. Eddy Sukmana: Aku Usul
13. Berto Tukan: Ketika Presiden Mendatangi Lapangan Hijau
14. Maria Rosari: Surti, Pete dan Persiden
15. FA Triatmoko HS: NKRI = Negara Keluarga Republik Indonesia
16. Christa Sabathaly: Tidak Hanya Perkasa, Tapi Juga Bisa Orgasme
17. Vikthoria Gabriel: Morse untuk Presiden
18. Apa Itu Kelompok Agenda 18?

Tanggapan terhadap buku ini:
"Gw pribadi sangat senang membaca artikel2 dari Agenda 18, yang sangat membuka mata dan mengetuk hati untuk lebih peduli dengan pemilihan calon pemimpin negara kita tercinta ini. Sudah waktunya generasi muda kita diajak untuk tidak lagi apatis terhadap kondisi negara kita, dan mulai berani menyuarakan pendapatnya. Siapa tahu akan lahir "Soekarno-Soekarno" baru di antara Capres kita, yg cukup kompeten untuk memimpin Negara ini, dan bukan hanya jadi boneka "generasi tua". Hidup Indonesia!!"
Barry Likumahua, Musisi

"Ini adalah sebuah bunga rampai berisi 16 tulisan dari 14 penulis, yang menamakan diri mereka Kelompok Agenda 18. Di antara 14 nama ini, ada beberapa yang Saya kenal secara pribadi. Tema besar bunga rampai diharap bisa aktual, yakni tentang presiden. Sebab sebentar lagi di negeri ini akan ada pilihan Presiden. Isinya ada yang sangat serius, ada yang rileks, maklum mereka ada yang wartawan profesional, ada pula yang menekuni dunia tulis menulis masih sebatas sebagai hobbi. "Joos"kah bunga rampai ini? Nah, Anda harus membaca sendiri sebelum memberi penilaian. Selamat membaca!"
F. Rahardi, Wartawan, Anggota Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia

"Hasil buah pemikiran sampai curahan hati yang saya rasa cukup mewakilkan suara mayoritas masyarakat Indonesia. Cukup banyak kritik membangun yang tersurat dalam 16 cerita yang ditawarkan. Semoga sedikit banyak (semoga banyak) bisa merubah pola pikir danmenggugah hati khususnya para pemimpin dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya ke arah yang lebih baik. Jangan hanya mengeluh, menuntut, mengkritik pedas, dan menyalahkan orang lain. Berhenti manja, berbuatlah sesuatu!!"
Aqi, Vokalis Grup Band Alexa

Salam kami
Agenda 18

Friday, July 18, 2008

Edisi Kejutan

Edisi kali ini, redaksi mendapatkan kejutan dari salah satu anggota Agenda 18. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam inbox pesan facebook milik redaksi, pada 26 Juni 2008, pukul 17.14. Seperti ini isinya:

hei... halo.. mau tanya dong caranya masukin tulisan ke blog Agenda 18? tulisanku emang ga banyak. apalagi sekarang2 ini makin jarang nulis. tp pengen juga masukin tulisan ke blog.

piye yo caranya?


thanks


Sehari kemudian. setelah membacanya, segera saja pesan itu kubalas, begini:

halo juga!
kirim aja tulisannya ke email gue: xxx@email.com*

nanti akan ada sesi editing, trus baru ditampilin deh ;)

gue tunggu ya ;)


Btw, Selamat menempuh hidup baru!

God bless ur fam :)


Beberapa hari kemudian, muncul beberapa buah surat elektronik dari si pengirim pesan tadi, berisi beberapa tulisan. Ada puisi dan juga cerpen.

Lalu siapakah dia?

Bagi yang membaca 2 kalimat terakhir dari pesan balasanku, mungkin akan segera tahu. Yup, dia adalah Lia! Christie Nathalia nama lengkapnya.

Yang menarik adalah, tanggal 23 Juni 2008, pukul 17.20, Lia mengirimkan sebuah pesan kepadaku pula. Isinya:

God has made everything in His time,
beautiful..when He united,

beautiful..when He rises the love..and,

beautiful..when He be so kind as to join our love into
Holy Wedding Ceremony
"By the Grace & Blessing of Lord"


Cordinally request the honour of your presence at our Wedding :

Lia & Nang Tok


Holy Matrimony :
Sunday, 6th July 2008 at 10.30
The Church of St. Yohanes Maria Vianney

Jl. Mayjen Sutoyo, Kebumen
Central Java Wedding

Reception:
Sunday, 6th July 2008 at 12:30
SD Pius (Gereja St. Yohanes Maria Vianney),

Jl. Mayjen Sutoyo, Kebumen
Central Java.

Cordially yours,

Lia & Nang Tok


Ya! Lia saat ini telah berkeluarga sendiri! Dan tidak salah jika blog kali ini didedikasikan khusus untuk pasangan muda tersebut (tidak juga sih, lebih karena tidak ada yang mengirim tulisan lain, hehehe). Juga, melalui blog edisi kali ini, serta tulisan ini, keluarga besar Agenda 18 mengucapkan "Atas Berkat dan Rahmat Tuhan, Selamat Menempuh Hidup Baru!"


*tidak dipublikasikan untuk menjaga privasi



Namaku Maya

Panggil aku Maya atau May, atau bisa juga May May. Terserah orang mau memanggilku apa. Ibu dan ayahku biasa memanggilku Sri. Sariyem Sri Handayani Prasetyoko adalah nama yang tercantum di akte kelahiranku. Nama yang tidak pernah kusukai semenjak aku pindah sekolah ke Jakarta. Nama yang terlalu berbau Jawa dan kampungan. Maaf, bukannya aku benci pada kampungku, hanya aku merasa namaku agak ndeso, gak modern. Ibuku saja namanya lebih modern, Cicilia Andiriani Wijanarko, sedangkan ayahku Gatot Adi Prasetyoko. Tidak kampungan dan lebih modern. Herannya kenapa mereka bisa memberiku nama Sariyem Handayani seperti ini.

Sudah sepuluh tahun aku menggunakan nama Maya bila berkenalan dengan orang lain. Nama Sariyem Sri Handayani hanya tercantum pada KTP, SIM, rekening bank, ATM, kartu kredit dan identitas lain. Untungnya kantorku memperbolehkanku memakai nama Maya di ID card karyawan. Seluruh karyawan di kantorku, kecuali bagian HRD, juga tahunya aku bernama Maya. Mbak Maya, begitu mereka biasa memanggilku.

Saat ini pukul 19:00 dan aku sedang menunggu Joko di sebuah cafe dekat kantor. Dia lelaki yang sudah lima bulan ini menemani hari-hariku. Jangan tanyakan tentang namanya yang rada kampungan itu. Kalau kalian bertemu dengannya pasti tidak akan banyak protes dengan nama Joko itu. Badannya tegap, dadanya bidang, giginya rapih dan putih, wajahnya tentu saja tidak sekampung namanya. Mirip-mirip Jude Law. Itu dia datang dengan senyum manisnya dan kemeja biru tua favoritnya. Bersamanya aku merasa nyaman.

Pertemuanku dengan Joko terjadi saat aku sedang mempresentasikan beberapa contoh iklan yang telah kantorku kerjakan. Kantor Joko adalah salah satu klien baru perusahaan advertising tempatku bekerja. Maya, demikian aku memperkenalkan diriku pada Joko. Tentu saja waktu itu aku memanggilnya Pak Joko. Waktu itu Joko hanya tersenyum dan menatapku dengan tajam. Rasanya aku pernah memandang wajahnya entah dimana. Tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena berkonsentrasi sekarang pada presentasiku.

Keesokan harinya kantorku dihebohkan dengan adanya kiriman satu lusin karangan bunga Lily. Hei! Itu bunga favoritku. Beruntung sekali orang yang mendapatkannya. Resepsionis katanya sempat menolak bunga-bunga itu karena nama orang yang tercantum pada karangan bunga itu tidak ada di kantor ini. Si pengantar bunga tetap ngotot mengantarkan bunga tersebut karena katanya sudah dibayar dan alamatnya jelas tertera kantor ini. Akhirnya beberapa temanku mengambil karangan bunga tersebut dan menaruhnya di meja mereka masing-masing. Termasuk aku sendiri tentunya, tanpa tahu siapa si pengirim karena si pengantar bunga merahasiakannya.

Kemudian selama hari-hari berikutnya kiriman bunga itu terus datang. Kantorku sampai penuh sesak dengan bunga Lily. Bayangkan, setiap hari satu lusin karangan bunga. Karena penasaran, aku bertanya pada bagian resepsionis untuk siapa karangan bunga tersebut ditujukan. Bunga-bunga itu semua untuk Sariyem Sri Handayani. Sariyem Sri Handayani... Sa..ri...yem... Sri.. Han... da... dan tiba-tiba semuanya begitu gelap.

Bangun-bangun aku ternyata aku berada di sofa ruang meeting dengan ibu kepala HRD, Ibu Ida, disampingku. Astaga... tadi aku pingsan karena saking kagetnya mendengar namaku sendiri. Ibu Ida hanya tersenyum dan memberiku teh manis hangat. Beliau bilang tidak ada salahnya menerima dan mengakui nama yang telah diberikan orangtuaku karena tiap nama mempunyai arti dan harapannya masing-masing. Hari itu aku diijinkan pulang lebih cepat dengan diantar supir kantor. Ibu Ida yang baik tetap menjaga kerahasian nama asliku.

Sesampainya di rumah, ibuku bertanya kenapa pulang lebih cepat dari biasanya. Aku cuma bilang pusing dan langsung masuk kamar. Diam-diam aku menangis, benci dengan kepengecutan diriku untuk mengakui namaku sendiri. Umurku sudah 25 tahun dan sampai sekarang belum pernah menjalin kasih dengan siapapun. Hari-hariku diisi dengan mengejar karier. Sekarang ada seseorang yang mengirimiku lusinan bunga Lily dan aku tak bisa mengakui kalau bunga-bunga itu dikirimkan untukku. Aku tidak sanggup membayangkan apa tanggapan teman-teman kantorku kalau mbak Maya yang cantik, mbak Maya yang modis, mbak Maya yang sanggup meyakinkan klien dengan sekali presentasi, ternyata namanya Sariyem Sri Handayani.

Akhirnya aku jatuh tertidur dengan ditemani berbagai bayangan menakutkan didalam kepalaku. Aku terbangun oleh ketukan pada pintu kamarku. Ibuku bilang ada tamu dan katanya laki-laki. Mungkin teman kantorku karena berpakaian kemeja rapi. Hmm... siapa ya kira-kira yang datang menengokku. Biasanya teman-teman kantorku takut dekat-dekat denganku yang katanya galak. Mungkin karena itu juga aku sulit dapat pacar. Cantik dan galak bukanlah perpaduan yang cocok untuk dijadikan pacar.

Ternyata tamuku adalah Pak Joko. Dia datang karena katanya tadi mencariku di kantor dan mendapat keterangan bahwa aku pulang cepat karena sakit. Joko, kemudian dia memintaku memanggilnya tanpa embel-embel Pak, mengajakku makan malam hari Sabtu besok. Herannya aku mengiyakan saja, seperti sudah tersihir oleh pesonanya. Astaga, Joko ini ganteng sekali kalo dilihat, obrolan kami pun sudah seperti teman lama saja.
Semenjak aku jatuh pingsan, karangan-karangan bunga itu tidak pernah datang lagi. Hubunganku dengan Joko pun semakin dekat semenjak makan malam di hari Sabtu itu. Aku pun juga mulai melupakan tentang lusinan karangan bunga, entah siapapun pengirimnya, dan pagi ini setelah lima bulan berlalu tiba-tiba kantorku mendapatkan lima lusin karangan bunga Lily yang ditujukan untuk Sariyem Sri Handayani. Ibu Ida hanya menatapku tajam dan aku hanya bisa pura-pura tidak peduli dengan bunga-bunga tersebut.

Teman-temanku pun mulai berceloteh: senang sekali si Iyem yang dapat bunga-bunga ini, dari kampung mana dia, kenapa bisa nyasar ke Jakarta, jangan-jangan dia itu Office Girl kantor sebelah yang dikejar-kejar Pak Lurah dari kampung, dan beberapa celotehan yang membuat kupingku panas. Ingin rasanya aku menghajar orang yang mengirim bunga-bunga tersebut.

Itu adalah kejadian pagi ini, dan sekarang didepanku ada Joko yang baru saja datang. Tiba-tiba didepanku ada seikat bunga Lily putih. Ini untukmu, kata Joko. Bunga favoritmu dari dulu. Darimana Jaka tahu bunga favoritku dan kenapa tiba-tiba dia berlutut didepanku? Joko mengeluarkan cincin dari sakunya dan mengatakan, “Sariyem Sri Handayani Prasetyoko, maukah kau menemani hari-hariku sebagai istriku?” Sariyem.... darimana dia tahu nama Sariyem itu dan bunga-bunga Lily ini. Jangan-jangan.... dan semuanya pun menjadi gelap lagi. Aku hanya sempat mendengar Joko mengatakan bahwa dia teman masa kecilku di kampung.

*Cerpen pernah dimuat di majalah SPICE edisi April '07.

Senja Bersamamu

Aku menantimu di batas senja.
Di pantai ini…
Dimana mentari meredupkan sinarnya
Dan air laut menggapai kakiku
Masih adakah senjamu untukku…
Disaat langit berbalut jingga keemasan
Aku ingin senja bila hanya bersamamu

6/12/2006

Sepi yang Ramai

Sepi…
Kenapa ada sepi?
Mungkin karena ramai
Sepi yang ramai
Ramai yang sepi
Sepi yang datang beramai-ramai
Ramai hinggap pada sepi
Hingga sepi pun berlalu
Meninggalkan ramai…

21/12/2006