Saturday, December 13, 2008

UNDANGAN PELUNCURAN BUKU "ANDAI PRESIDEN KITA SEHEBAT HARRY POTTER"

Orang muda berbicara tentang Presiden harapan mereka. seperti apa jadinya? Apakah Presiden Indonesia harus seperti seorang Harry Potter? Tokoh rekaan J.K Rowling ini digambarkan mampu melakukan hal-hal luar biasa dengan tongkat sihirnya. JIka Presiden Indonesia punya tongkat sihir, akan seperti apa negeri ini? Mungkin para koruptor akan lenyap dari bumi pertiwi, karena langsung dikirim ke Azkaban, penjara manakutkan dalam dunia sihir. Atau mungkin tidak perlu ada orang yang mengeluhkan biaya kesehatan yang mahal, karena sekali ayun, si tongkat sihir mampu menyembuhkan segala penyakit. Yang pasti, sah-sah saja orang muda punya sosok ideal untuk RI 1.

Buku ini mencoba merangkum segelintir suara orang muda tentang Presiden 2009 menurut pemikiran mereka. Kepekaan terhadap realita dan perkembangan masyarakat sehari-hari, menjadi modal untuk merumuskan harapan akan pemimpin Indonesia dalam bahasa khas anak muda.


Agenda 18, sebuah kelompok penulis muda berbasis pluralitas, dengan ini mengundang Anda untuk hadir dalam peluncuran buku ke-2 kami:


Diskusi dan Peluncuran Buku "Andai Presiden Sehebat Harry Potter"
Penulis: Kelompok Penulis Muda Agenda 18
Tempat: Newseum Cafe
Jl. Veteran I No.32, jakarta Pusat
(Belakang Hotel Sriwijaya, deretan Es Krim Ragusa dan Dapur Baba)

Waktu: Sabtu, 20 Desember 2008
14.30 - 16.30 WIB
Moderator: Ignatius Haryanto
Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (www.lspp.org)
Pembicara:
* Fadjroel Rachman, pengamat politik (www.fadjroelrachman.com)
* Antonio Pradjasto, peneliti DEMOS (www.demosindonesia.org)
* Roy Thaniago, perwakilan Penulis Agenda 18 (www.agenda18.co.nr)
Hiburan: Endah N Rhesa (www.endahnrhesa.com)
endah n'rhesa adalah duo gitar-vokal dan bass dengan konsep akustik minimalis modern.

Acara:
1. Seremonial peluncuran buku "Andai Presiden Sehebat Harry Potter"
2. Diskusi buku dengan pembicara Fadjroel Rachman, Antonio Pradjasto dan Roy Thaniago.
3. Door prize.

Untuk informasi dan reservasi**, silakan hubungi:
Hanni (0852 104 39993 / 021 989 576 51
Vikthoria (0812 90 437 99)
Email: agendadelapanbelas@gmail.com

**
Batas akhir reservasi: 17 Desember 2008
acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya

Sekilas tentang buku "ANDAI PRESIDEN KITA SEHEBAT HARRY POTTER"
Daftar isi:
1. kata pengantar: Ignatius Haryanto
2. Roy Thaniago: Selamat Pagi Mas Presiden
3. Agnes Rita: Apa Iya Kita Butuh Presiden?
4. Theresia Hanni Christania: Minggir dong!! Presiden Mau Lewat!!
5. Anton Lunardi: Dicari: Seorang Superhero untuk Jadi Presiden
6. Sigit Kurniawan: Orang Bodoh Dilarang Jadi Presiden
7. Christa Sabathaly: Kalau Presiden Punya Facebook
8. Sri Maryanti: Dicari: Presiden dan Wapres yang Sensitif Perempuan
9. Elsye Christieyani Susanto: Andai Presiden Kita Mau Nongkrong di Terminal
10. Berto Tukan: Andai Presiden Kita Sehebat Harry Potter
11. Vikthoria Gabriel: Susahnya Membuang Keringat di Ibukota
12. Eddy Sukmana: Aku Usul
13. Berto Tukan: Ketika Presiden Mendatangi Lapangan Hijau
14. Maria Rosari: Surti, Pete dan Persiden
15. FA Triatmoko HS: NKRI = Negara Keluarga Republik Indonesia
16. Christa Sabathaly: Tidak Hanya Perkasa, Tapi Juga Bisa Orgasme
17. Vikthoria Gabriel: Morse untuk Presiden
18. Apa Itu Kelompok Agenda 18?

Tanggapan terhadap buku ini:
"Gw pribadi sangat senang membaca artikel2 dari Agenda 18, yang sangat membuka mata dan mengetuk hati untuk lebih peduli dengan pemilihan calon pemimpin negara kita tercinta ini. Sudah waktunya generasi muda kita diajak untuk tidak lagi apatis terhadap kondisi negara kita, dan mulai berani menyuarakan pendapatnya. Siapa tahu akan lahir "Soekarno-Soekarno" baru di antara Capres kita, yg cukup kompeten untuk memimpin Negara ini, dan bukan hanya jadi boneka "generasi tua". Hidup Indonesia!!"
Barry Likumahua, Musisi

"Ini adalah sebuah bunga rampai berisi 16 tulisan dari 14 penulis, yang menamakan diri mereka Kelompok Agenda 18. Di antara 14 nama ini, ada beberapa yang Saya kenal secara pribadi. Tema besar bunga rampai diharap bisa aktual, yakni tentang presiden. Sebab sebentar lagi di negeri ini akan ada pilihan Presiden. Isinya ada yang sangat serius, ada yang rileks, maklum mereka ada yang wartawan profesional, ada pula yang menekuni dunia tulis menulis masih sebatas sebagai hobbi. "Joos"kah bunga rampai ini? Nah, Anda harus membaca sendiri sebelum memberi penilaian. Selamat membaca!"
F. Rahardi, Wartawan, Anggota Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia

"Hasil buah pemikiran sampai curahan hati yang saya rasa cukup mewakilkan suara mayoritas masyarakat Indonesia. Cukup banyak kritik membangun yang tersurat dalam 16 cerita yang ditawarkan. Semoga sedikit banyak (semoga banyak) bisa merubah pola pikir danmenggugah hati khususnya para pemimpin dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya ke arah yang lebih baik. Jangan hanya mengeluh, menuntut, mengkritik pedas, dan menyalahkan orang lain. Berhenti manja, berbuatlah sesuatu!!"
Aqi, Vokalis Grup Band Alexa

Salam kami
Agenda 18

Friday, July 18, 2008

Edisi Kejutan

Edisi kali ini, redaksi mendapatkan kejutan dari salah satu anggota Agenda 18. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam inbox pesan facebook milik redaksi, pada 26 Juni 2008, pukul 17.14. Seperti ini isinya:

hei... halo.. mau tanya dong caranya masukin tulisan ke blog Agenda 18? tulisanku emang ga banyak. apalagi sekarang2 ini makin jarang nulis. tp pengen juga masukin tulisan ke blog.

piye yo caranya?


thanks


Sehari kemudian. setelah membacanya, segera saja pesan itu kubalas, begini:

halo juga!
kirim aja tulisannya ke email gue: xxx@email.com*

nanti akan ada sesi editing, trus baru ditampilin deh ;)

gue tunggu ya ;)


Btw, Selamat menempuh hidup baru!

God bless ur fam :)


Beberapa hari kemudian, muncul beberapa buah surat elektronik dari si pengirim pesan tadi, berisi beberapa tulisan. Ada puisi dan juga cerpen.

Lalu siapakah dia?

Bagi yang membaca 2 kalimat terakhir dari pesan balasanku, mungkin akan segera tahu. Yup, dia adalah Lia! Christie Nathalia nama lengkapnya.

Yang menarik adalah, tanggal 23 Juni 2008, pukul 17.20, Lia mengirimkan sebuah pesan kepadaku pula. Isinya:

God has made everything in His time,
beautiful..when He united,

beautiful..when He rises the love..and,

beautiful..when He be so kind as to join our love into
Holy Wedding Ceremony
"By the Grace & Blessing of Lord"


Cordinally request the honour of your presence at our Wedding :

Lia & Nang Tok


Holy Matrimony :
Sunday, 6th July 2008 at 10.30
The Church of St. Yohanes Maria Vianney

Jl. Mayjen Sutoyo, Kebumen
Central Java Wedding

Reception:
Sunday, 6th July 2008 at 12:30
SD Pius (Gereja St. Yohanes Maria Vianney),

Jl. Mayjen Sutoyo, Kebumen
Central Java.

Cordially yours,

Lia & Nang Tok


Ya! Lia saat ini telah berkeluarga sendiri! Dan tidak salah jika blog kali ini didedikasikan khusus untuk pasangan muda tersebut (tidak juga sih, lebih karena tidak ada yang mengirim tulisan lain, hehehe). Juga, melalui blog edisi kali ini, serta tulisan ini, keluarga besar Agenda 18 mengucapkan "Atas Berkat dan Rahmat Tuhan, Selamat Menempuh Hidup Baru!"


*tidak dipublikasikan untuk menjaga privasi



Namaku Maya

Panggil aku Maya atau May, atau bisa juga May May. Terserah orang mau memanggilku apa. Ibu dan ayahku biasa memanggilku Sri. Sariyem Sri Handayani Prasetyoko adalah nama yang tercantum di akte kelahiranku. Nama yang tidak pernah kusukai semenjak aku pindah sekolah ke Jakarta. Nama yang terlalu berbau Jawa dan kampungan. Maaf, bukannya aku benci pada kampungku, hanya aku merasa namaku agak ndeso, gak modern. Ibuku saja namanya lebih modern, Cicilia Andiriani Wijanarko, sedangkan ayahku Gatot Adi Prasetyoko. Tidak kampungan dan lebih modern. Herannya kenapa mereka bisa memberiku nama Sariyem Handayani seperti ini.

Sudah sepuluh tahun aku menggunakan nama Maya bila berkenalan dengan orang lain. Nama Sariyem Sri Handayani hanya tercantum pada KTP, SIM, rekening bank, ATM, kartu kredit dan identitas lain. Untungnya kantorku memperbolehkanku memakai nama Maya di ID card karyawan. Seluruh karyawan di kantorku, kecuali bagian HRD, juga tahunya aku bernama Maya. Mbak Maya, begitu mereka biasa memanggilku.

Saat ini pukul 19:00 dan aku sedang menunggu Joko di sebuah cafe dekat kantor. Dia lelaki yang sudah lima bulan ini menemani hari-hariku. Jangan tanyakan tentang namanya yang rada kampungan itu. Kalau kalian bertemu dengannya pasti tidak akan banyak protes dengan nama Joko itu. Badannya tegap, dadanya bidang, giginya rapih dan putih, wajahnya tentu saja tidak sekampung namanya. Mirip-mirip Jude Law. Itu dia datang dengan senyum manisnya dan kemeja biru tua favoritnya. Bersamanya aku merasa nyaman.

Pertemuanku dengan Joko terjadi saat aku sedang mempresentasikan beberapa contoh iklan yang telah kantorku kerjakan. Kantor Joko adalah salah satu klien baru perusahaan advertising tempatku bekerja. Maya, demikian aku memperkenalkan diriku pada Joko. Tentu saja waktu itu aku memanggilnya Pak Joko. Waktu itu Joko hanya tersenyum dan menatapku dengan tajam. Rasanya aku pernah memandang wajahnya entah dimana. Tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena berkonsentrasi sekarang pada presentasiku.

Keesokan harinya kantorku dihebohkan dengan adanya kiriman satu lusin karangan bunga Lily. Hei! Itu bunga favoritku. Beruntung sekali orang yang mendapatkannya. Resepsionis katanya sempat menolak bunga-bunga itu karena nama orang yang tercantum pada karangan bunga itu tidak ada di kantor ini. Si pengantar bunga tetap ngotot mengantarkan bunga tersebut karena katanya sudah dibayar dan alamatnya jelas tertera kantor ini. Akhirnya beberapa temanku mengambil karangan bunga tersebut dan menaruhnya di meja mereka masing-masing. Termasuk aku sendiri tentunya, tanpa tahu siapa si pengirim karena si pengantar bunga merahasiakannya.

Kemudian selama hari-hari berikutnya kiriman bunga itu terus datang. Kantorku sampai penuh sesak dengan bunga Lily. Bayangkan, setiap hari satu lusin karangan bunga. Karena penasaran, aku bertanya pada bagian resepsionis untuk siapa karangan bunga tersebut ditujukan. Bunga-bunga itu semua untuk Sariyem Sri Handayani. Sariyem Sri Handayani... Sa..ri...yem... Sri.. Han... da... dan tiba-tiba semuanya begitu gelap.

Bangun-bangun aku ternyata aku berada di sofa ruang meeting dengan ibu kepala HRD, Ibu Ida, disampingku. Astaga... tadi aku pingsan karena saking kagetnya mendengar namaku sendiri. Ibu Ida hanya tersenyum dan memberiku teh manis hangat. Beliau bilang tidak ada salahnya menerima dan mengakui nama yang telah diberikan orangtuaku karena tiap nama mempunyai arti dan harapannya masing-masing. Hari itu aku diijinkan pulang lebih cepat dengan diantar supir kantor. Ibu Ida yang baik tetap menjaga kerahasian nama asliku.

Sesampainya di rumah, ibuku bertanya kenapa pulang lebih cepat dari biasanya. Aku cuma bilang pusing dan langsung masuk kamar. Diam-diam aku menangis, benci dengan kepengecutan diriku untuk mengakui namaku sendiri. Umurku sudah 25 tahun dan sampai sekarang belum pernah menjalin kasih dengan siapapun. Hari-hariku diisi dengan mengejar karier. Sekarang ada seseorang yang mengirimiku lusinan bunga Lily dan aku tak bisa mengakui kalau bunga-bunga itu dikirimkan untukku. Aku tidak sanggup membayangkan apa tanggapan teman-teman kantorku kalau mbak Maya yang cantik, mbak Maya yang modis, mbak Maya yang sanggup meyakinkan klien dengan sekali presentasi, ternyata namanya Sariyem Sri Handayani.

Akhirnya aku jatuh tertidur dengan ditemani berbagai bayangan menakutkan didalam kepalaku. Aku terbangun oleh ketukan pada pintu kamarku. Ibuku bilang ada tamu dan katanya laki-laki. Mungkin teman kantorku karena berpakaian kemeja rapi. Hmm... siapa ya kira-kira yang datang menengokku. Biasanya teman-teman kantorku takut dekat-dekat denganku yang katanya galak. Mungkin karena itu juga aku sulit dapat pacar. Cantik dan galak bukanlah perpaduan yang cocok untuk dijadikan pacar.

Ternyata tamuku adalah Pak Joko. Dia datang karena katanya tadi mencariku di kantor dan mendapat keterangan bahwa aku pulang cepat karena sakit. Joko, kemudian dia memintaku memanggilnya tanpa embel-embel Pak, mengajakku makan malam hari Sabtu besok. Herannya aku mengiyakan saja, seperti sudah tersihir oleh pesonanya. Astaga, Joko ini ganteng sekali kalo dilihat, obrolan kami pun sudah seperti teman lama saja.
Semenjak aku jatuh pingsan, karangan-karangan bunga itu tidak pernah datang lagi. Hubunganku dengan Joko pun semakin dekat semenjak makan malam di hari Sabtu itu. Aku pun juga mulai melupakan tentang lusinan karangan bunga, entah siapapun pengirimnya, dan pagi ini setelah lima bulan berlalu tiba-tiba kantorku mendapatkan lima lusin karangan bunga Lily yang ditujukan untuk Sariyem Sri Handayani. Ibu Ida hanya menatapku tajam dan aku hanya bisa pura-pura tidak peduli dengan bunga-bunga tersebut.

Teman-temanku pun mulai berceloteh: senang sekali si Iyem yang dapat bunga-bunga ini, dari kampung mana dia, kenapa bisa nyasar ke Jakarta, jangan-jangan dia itu Office Girl kantor sebelah yang dikejar-kejar Pak Lurah dari kampung, dan beberapa celotehan yang membuat kupingku panas. Ingin rasanya aku menghajar orang yang mengirim bunga-bunga tersebut.

Itu adalah kejadian pagi ini, dan sekarang didepanku ada Joko yang baru saja datang. Tiba-tiba didepanku ada seikat bunga Lily putih. Ini untukmu, kata Joko. Bunga favoritmu dari dulu. Darimana Jaka tahu bunga favoritku dan kenapa tiba-tiba dia berlutut didepanku? Joko mengeluarkan cincin dari sakunya dan mengatakan, “Sariyem Sri Handayani Prasetyoko, maukah kau menemani hari-hariku sebagai istriku?” Sariyem.... darimana dia tahu nama Sariyem itu dan bunga-bunga Lily ini. Jangan-jangan.... dan semuanya pun menjadi gelap lagi. Aku hanya sempat mendengar Joko mengatakan bahwa dia teman masa kecilku di kampung.

*Cerpen pernah dimuat di majalah SPICE edisi April '07.

Senja Bersamamu

Aku menantimu di batas senja.
Di pantai ini…
Dimana mentari meredupkan sinarnya
Dan air laut menggapai kakiku
Masih adakah senjamu untukku…
Disaat langit berbalut jingga keemasan
Aku ingin senja bila hanya bersamamu

6/12/2006

Sepi yang Ramai

Sepi…
Kenapa ada sepi?
Mungkin karena ramai
Sepi yang ramai
Ramai yang sepi
Sepi yang datang beramai-ramai
Ramai hinggap pada sepi
Hingga sepi pun berlalu
Meninggalkan ramai…

21/12/2006

Ketika ‘Ku Hitam

Akankah kau mengenaliku di surga sana?
Jika semuanya tampak begitu sempurna
Begitu indah dan damai
Terang gemilang

Akankah kau mengenaliku yang hitam ini?
Penuh dengan air mata kesedihan
Amarah yang menggelegak
Iri hati yang membusuk

Akankah kau menyambutku lagi…
dengan sayap keemasanmu?
Menyelimutiku dengan kedamaian
Seperti dulu… ketika kumasih putih
dan berada dipelukanmu

Akankah kau melihatku diantara terangmu?
Ketika ku hitam
Andai iya…
Ijinkan aku menjadi bayangan darimu
Mengikutimu kemanapun
Dan aku pun kembali menjadi putih dalam terangmu

26/12/2006

Iri

Aku iri…
Iri pada burung-burung yang bebas beterbangan
Pada anak-anak yang tertawa di pinggir kali

Aku iri..
Iri sekali…
Sampai ingin rasanya aku mematahkan sayap-sayap burung itu
Ingin aku menampar pipi-pipi halus anak yang tertawa
Aku iri…
Tidak ada yang boleh bebas selain aku!
Tidak ada yang boleh tertawa selain aku!
Hanya aku… aku… dan aku…
Karena aku iri..
Dan itu semua sudah cukup.

Haruskah Aku Menangis?

Mencermati geliat pendidikan di indonesia, ada masa di mana pendidikan itu terasa "bergairah". Sayangnya gairah itu selalu disertai dengan kesedihan dan tak jarang ada amarah di dalamnya. Hal itu dikarenakan tidak sedikit pelajar yang harus menelan pil pahit dari Ujian Akhir nasional. Bagaimana tidak jika hampir setiap tahunnya ada ratusan bahkan ribuan siswa di indonesia harus mengulang atau bahkan tidak lagi melanjutkan pendidikannya setelah hampir tiga tahun mengenyam pendidikan.

Ironisnya, pelajarlah yang selalu menjadi kambing hitam dari permasalahan tahunan itu. Mereka dicap pemalas, tidak belajar dengan tekun atau bahkan tidak berprestasi. Jika cap-cap itu menempel, lalu mereka harus apa. Padahal, pada kenyataanya yang gagal menembus dinasti Ujian Akhir Nasional itu, tidak sedikit pelajar-pelajar yang memiliki banyak prestasi bahkan unggul dalam pelajaran.

Orientasi dari Ujian Akhir Nasional terlihat hanya pada hasil. Tujuannya yang dibungkus dengan istilah "untuk menguji kemampuan" hanyalah menjadi sebuah kamuflase dari lemahnya penilaian pada UAN. Maka, tidak salah lah jika tidak sedikit orang yang terjebak pada budaya instan yang menutup sebelah mata proses yang dilakukan untuk mencapai tujuan.

Kita sering kali tidak menyadari bahwa sebenarnya proses lebih dahulu dari pada hasil. Yang lebih banyak kita pahami adalah hasil merupakan ukuran untuk melihat bahwa seseorang mampu atau tidak. Sebagai sebuah analogi, saat seseorang lahir, yang petama kali dilakukannya adalah menangis bukan bernyanyi. Apakah kita tau saat anak itu lahir bahwa ia akan menjadi seorang penyanyi. Proseslah yang akan menunjukan bahwa ia akan menjadi penyanyi atau tidak.

Lemahnya kebiasaan yang mengabaikan proses membuat ungkapan-ungkapan seperti, “kamu anak bodoh”, ”kamu anak malas”, “kamu anak tidak berprestasi” mudah terucapkan. Jika sebuah proses itu di hargai maka niat untuk berusaha pun akan tumbuh. Tetapi jika tidak ada rasa penghargaan
terhadap proses, maka akan semakin banyak orang berpikir, ”untuk apa bersusah payah mengusahakan sesuatu jika kemungkinan gagal masih ada?”

Untuk dapat membawa penilaian pada orientasi proses, perlu ada inovasi terhadap bentuk dari UAN. Selama ini bentuk yang ada adalah soal-soal pertanyaan, dan yang dijadikan nilai adalah benar dan salah. Jika benar dapat nilai. Jika salah, ya sudah mau diapakan lagi? Untuk dapat mengarah pada orientasi proses maka bentuk ujiannya pun harus sesuai. Untuk ujian bahasa indonesia, siswa tidak selalu harus menjawab pertanyaan teoritis. Dapat saja dalam jangka waktu satu tahun, sendiri atau secara kelompok, mereka membuat kumpulan cerpen atau novel. Dari situ mereka akan lebih banyak belajar bahkan menerapkan teori-teori yang pernah diajarkan. Sekolah atau pihak penerbit umum dapat menerbitkan hasil mereka sebagai bentuk penghargaan kerja keras yang dilakukan.

Selain itu, untuk bidang matematika, pelajar dapat diuji dengan cara melakukan praktek mengajar untuk teman-temannya, adik kelasnya atau bahkan untuk anak-anak jalanan. Dengan berbagi ilmu seperti itu, dapat dilihat pehaman pelajar terhadap materi yang telah dipelajari. Dan yang pasti tidak hanya berguna untuk dirinya tetapi juga bagi orang-orang yang mendapat kesempatan dibantu dalam belajar.

Untuk dapat melakukan hal itu, peranan sekolah pun harus aktif melakukan proses dan memberikan penilaian objektif pada proses yang dilakukan pelajar secara berkesinambungan.

Semoga pendidikan di Indonesia tidak lagi menuai tangis dan kekecewaan dari peserta didiknya, namun kembali bergairah dan mampu mengargai serta memberi tempat pada proses yang dilakukan.

Tuesday, June 17, 2008

Intermezo Hujan

Inilah hidup kawan…
Rindu yang bengis itu menggerogotiku lagi
Bahkan untuk memikirkan kapan terakhir tak merindunya,
aku sepertinya tak mampu
tiba-tiba bagaikan mati lampu bergilir di
margonda

ingin kukabakan rasa ini
Sakit ini, keresahan dan rindu ini

Apakah aku harus mengirimkan pesan singkat untuknya sekarang?
“hai.. maaf mengganggu dengan pesan singkat ini….
Rindu tak bisa kubendung….. resah-sesal ini tak bisa kukekang….
Dan hanya ingin tahu… apa kabarmu hari ini?”

Aku tahu….

Ah, sial, kenapa Sigur Ros berdendang
saat-saat seperti ini?
The Land Between Solar Systems-nya Mum?
Mestikah aku tenggelam oleh placebo
My Sweet Prince?

Atau lari saja dengan optimisme utopia a la Marley atau Big Mountain?
Ahh, sudahlah

Jangan Kekang Hatimu

Buah pikiran, dapat menyublim menjadi serangkai tutur kata, atau tenunan karya. Sebaliknya, saat buah pikiran itu tidak diutarakan, ia akan menguap bagai gas dari buangan biang es. Lalu si biang ini akan terus jadi pikiran tak terkendali, namanya juga biangnya, tapi bagaimanapun juga bentuknya yang seperti batu, akan tetap menjadi kerikil saat berpikir.

Saat rindu itu hadir dan terjebak dalam dimensi jiwa, setipis apapun nyawa ia tidak akan melepaskan kerinduan. Kerinduan itu jika hanya disimpan dalam sel-sel kulit mati, ia selamanya cuma akan jadi ampas, dan bukan inti. Karena inti itu adalah energi, dan ketika energi itu tidak dipakai listrik akan padam. Tak ada listrik, hidup ini punya serasa gelap. Apalagi di kala malam gelap kelam.

Jikalau rindu itu pun menggebu, tapi tanpa ventilasi yang bisa mengeluarkan debunya, ia akan menyakitkan. Ia akan terus berdenyut-denyut bagai migrain, menyeringai bagai gatal, sungguh, nyeri total. Ketika ia didiamkan terus, sifat rindu yang pendendam itu datang. Mencoreng moreng keindahan, mendera kenangan, hanya tinggal kebencian, karena ia tidak dibiarkan keluar! Suatu saat ia akan meletus tanpa ampun. Awalnya api akhirnya lahar. Sama sekali tidak bisa diajak berkelakar.

Saat rasa sayang itu terang dan hinggap di isi kutang, ia akan teriak-teriak seperti pesakitan. Ia memekakan telingamu hingga kau pengang, dan mendekam nafasmu hingga kau asma. Saat rasa sayang timbul, dan kau memaksanya untuk tenggelam. Ia akan jadi cahaya yang berubah jadi petir. Sejenak, menyambar-nyambar, ngeri.
Jika kau sayang, tapi kau tidak membiarkan rasa itu berperang, kau sudah mati sebelum berlawanan. Ia akan mendengus-dengus dalam sangkar yang kau karya, lalu perlahan hancur karena tidak tersalur. Lama kelamaan terurai, dan makin sakitlah serpihan-serpihan sayang itu. Karena sejak jadi atom, kini ia bisa menjangkiti setiap inci dari semua kutu yang ada di badanmu. Ia bahkan jadi lebih ganas, akhirnya kau pun tergila-gila. Ataupun gila.

Tapi semuanya itu cuma rekayasa kalau dibandingkan dengan, keinginan. Ia adalah si mahanyata. Mahadaya, dan mahaada. Jika kau mencoba meniadakan keinginan yang ada, serta mengada-ngada keinginan yang tiada, kau akan terima ganjaran terkuat yang pernah terasa. Saat keinginan itu datang, tapi kau tidak mengusahakannya, malah mengkhianatinya, memecatnya, mencabulinya, ia akan sangat-sangat berbahaya.
Ia hanya akan diam, tapi diam itulah sebenarnya media penyebaran virus. Virus kehilangan arah, keputusasaan, redupnya gairah. Sesaat kau tampak seperti manusia, tapi sebenarnya kau sudah mati. Sebentar kau akan bicara seperti kau mencintai diri, tapi sebenarnya kau sudah bunuh diri. Kau akan terlihat seperti mayat hidup. Zombie.

Kalanya keinginan itu mengambil tempat dan waktu, kau pun akan terhisap jika kau tidak berusaha memberontak. Kau harus keluarkan keinginan itu dari kepalamu, utarakan pendapatmu, sampaikan maksudmu. Jika keinginan itu hancur lebur di dalam dirimu, maka kau tak lain memasang detonator untuk organ-organ dalammu. Sebaliknya, jika keinginan itu kau lempar jauh-jauh keluar, walaupun kadang sering tak kena sasaran—setidaknya kau sudah membuangnya dari sistem. Sungguh, jangan kekang hatimu, pikirmu, keinginanmu. Tidak akan membuat hidupmu lebih mudah, tidak akan selesai mengerjakan satu masalah pun.

Sepenggal Cinta Dalam Selembar Sore

Tembok kamarku pucat
Mengerti ia,
akan aku yang rindu menenggelamkan diri
dalam matamu yang teduh
Sedang aku hanya mampu menjilati baumu
dalam sukmaku yang khawatir
Mengerti pun belum sempat

Dalam berbaring aku masih berusaha mencuri senyummu
dari ingatanku yang kuyup karena sembab
Dan kamu selalu tak pernah ingat
untuk menyekaku dengan kecup manja
Mengerti pun belum sempat

Aku hanya ingin kesederhanaan
Tiap malam bisa membelai ranumnya rambutmu
Sambil menyelipkan selamat malam pada daun telingamu yang harum
Tiap pagi bisa memeluk matamu dengan mataku
Sambil menghujanimu dengan puisi yang kukarang sebelum berangkat tidur
Dan tiap petang kita habiskan dengan terkekeh
menertawakan matahari yang menjauh ke barat

Saat itu,
aku tangkap selembar sore,
untuk mengungkapkan
bagaimana aku mencintaimu dengan sungguh


200607
petojo

Hidup Selepas Awan

"Ayah. Kalau kau bisa mendengar. Aku menemukan gereja kecil di dekat kos."

Hanya sesaat. Aku terhalang sinar matahari. Marah memuncak. Aku butuh cahaya gemerlap saat ini juga. Kukutuk awan tanpa rasa melingkupi. Namun tak bisa mengucap apa-apa pada wujud tak terjangkau. Kesadaran muncul. Aku cuma boneka bertangan, menerima siang-malam-hujan dan kemarau bergantian.

Mungkin lahirku tidak sempurna membuat gampang mengumpat. Setitik debu seperti Katedral di depan mata. Desah lemah bagai teriak kondektur metromini di telinga.
Aku lahir dari ibu yang mencintaiku. Menerima asi hingga usia dua setengah tahun. Adikku berjarak beberapa tahun karenanya. Mungkin itu pula sebab aku dekat ibuku. Hingga kini enam tahun lebih sedikit hari, selat memisahkan kami, menempatkan aku di lain pulau membesarkan rinduku.

Kebahagiaanku tidak sebahagia anak-anak lain. Ayah tidak menghasilkan segenggam nasi untuk disuapkan ke mulut kecilku. Ibu. Ibu yang menyuapi aku dan kedua adikku dua kali sehari. Hanya dua kali karena itu mampu dicari. Ayah seperti bayi kecil mengangakan mulut bila waktu makan tiba. Anak ibu seperti empat orang.
Mungkin terlalu jahat mengatakan ayah seperti bayi. Tapi itu dia. Tidak pernah membelikan sebutir permen atau sekerat lemang bambu kesukaanku.

"Maukah ayah membelikan sesuatu?"
"Ayo!"

Dulu kami punya warung kecil karena bangkrut tutup. Aku dan adikku sebabnya selalu mencuri jualan. Sekarang segala sesuatunya mesti dibeli. Anak kecil sepertiku bisa bila diberi orang tua.

Aku menjumput kue tawa rudal dari stoples kaca. Kue yang pecah-pecah seperti mulut tertawa di sisi-sisinya. Rudal diambil dari nama senjata yang dipakai Amerika dan Irak saling menyerang. Sebetulnya tidak mirip sekali dengan rudal Patriot atau Scud. Panjangnya kira-kira setelunjuk orang dewasa, besarnya juga.

"Seratus rupiah"
"Pak, bayar !"

Ayah diam saja, menunduk. Satunya lima puluh rupah, sudah kugigit satu.
"Saya tidak punya"
"Kan sudah dimakan ?" Penjaga warung meninggikan suara.

Kukembalikan yang belum kugigit, berlari pulang. Ayahku tidak punya
apa-apa. Kue yang terlanjur kumakan tidak usah dibayar. "Lain kali bayar !" Kuhabiskan yang separuh tak bersemangat. Aku memikirkan ayah yang tak punya uang. Mengapa pula mau kuajak padahal tak punya uang ? Belakangan kutahu ayah sangat mencintaiku. Tidak bisa menolak apa permintaanku.

Masa kanak-kanaknya, ayah pernah sakit setahun penuh. Selama itu berbaring di tempat tidur papan beralas tikar pandan. Punggungnya bolong-bolong busuk. Hanya napas lemah keluar dari hidung pertanda masih ada hidup. Aku masih melihat bekas bolong-bolong itu di masa tuanya. Menderita.

Dia pulang berendam di kali seharian, malamnya demam. Sejak itu tidak pernah keluar kamar. Otaknya diserang malaria tropika. Aku tidak tahu kebenaran kalau menderita sakit ini si sakit lemah ingatannya. Ayahku pelupa. Ditanya sudah makan atau belum dia lupa.

Dia dijanjikan akan dijemput pastor dari Medan. Ayahku terpanggil jadi pastor sejak kecil. Tapi sampai di hari ayah mandi seharian tidak juga pastor itu datang. Dia kecewa.

Aku pernah punya keinginan seperti ayah. Adik perempuanku pun ingin membiara. Panggilan untukku berhenti dan sengaja kuhentikan, adikku beralih iman.
Ayah tetap pelupa sampai kami bertiga lahir bahkan dewasa dan ia menua. Hingga sekarang ia tetap pelupa dan tidak pernah memberiku apa-apa.

Sesuatu menyadarkan aku di masa remaja. Ayah bukan tidak memberiku apa-apa. Yang terbesar kudapat di masa pertumbuhan imanku. Hanya ayah yang selau berdoa ketika bangun tidur, saat makan dan menjelang tidur. Ini pemberian terbesar buatku. Ini menguatkanku.

Ia tidak bisa memberikanku kue tawa rudal. Ia tidak bisa membelikanku lemang bambu. Ia tidak pernah mengajakku ke pasar. Tapi ia memberi hadiah besar untuk imanku.
Hanya selintas awan waktu diberikan Tuhan bagiku menerima hadiah besar hidupku. Tertancap dalam. Awan yang datang pun megandung hujan di kala gersang. Saat-saat kemarahanku. Aku selalu ingat ketekunanmu. Dan aku tenang di rantau. Dari rantau aku ingin pulang di doakan olehmu.

Pengantar Malam Ini…

Aroma dupa masih tercium dari rambutku. Aroma yang melekat siang tadi di perkuburan rupanya enggan melepaskanku begitu saja. Padahal aku tak pernah menyukainya. Selalu saja kukuatkan hati menahan napas ketika ada dupa dibakar di sekitarku. Langkah selalu kupercepat ketika melewati rumah peramal nasib yang hanya berjarak dua blok dari rumahku. Sengaja kumencari tempat agak jauh dari altar saat perayaan ekaristi agung, sekadar menjauhkan diri dari hembusan angina yang membawa aroma dupa merasuk rongga hidung. Bahkan aku selalu menolak menemani nenek buyut berdoa ketika kami masih tinggal bersama lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Aku hanya tidak ingin menghirup asap dupa yang tak pernah terlupa diayunkan nenek buyut sembari berdoa.

Namun, aku sering meminjam dupa itu sebelum dibakar dan meniru nenek buyut mengayun-ayunkannya di depan altar kecil di rumah kami. Menyenangkan rasanya mengayun-ayunkan batangan dupa merah itu. Lebih menyenangkan lagi, setelah puas mengayun, selalu ada paman yang siap menggendongku lantaran altar dan tempat menancapkan dupa batangan itu terlampau tinggi. Kala itu usiaku belum genap lima tahun. Begitu paman menyalakan dupa yang kutancap tadi, tanpa dikomando aku melarikan diri sejauh mungkin. Biasanya ke pekarangan, lantas mengajak anjing mengejar ayam-ayam kate peliharaan kami. Bocah.

Tahun-tahun berlalu. Tidak ada lagi dupa batangan merah yang tertancap menyala di altar itu. Nenek buyut telah berpulang dan tak ada yang meneruskan ritual tersebut, meskipun sekurang-kurangnya lima kali setahun keluargaku dan ribuan umat lain terpaksa menghirup aroma serupa dari dupa bakaran yang dipersembahkan dalam perrayaan ekaristi agung. Simbolis saja. Asap dupa yang mengangkasa diasosiasikan dengan lantunan doa-doa yang dipanjatkan, diharap sampai juga kepada Sang Maha. Tapi, tetap saja, aku tak menyukai aromanya.

Kali ini aku terlalu malas untuk membasuh rambut, mengganti aroma dupa dengan harum mint shampoo yang kusuka. Perjalanan pulang satu jam tadi terasa seabad. Rasanya tenagaku tercecer di setiap bongkah kerikil beraspal yang kulewati. Bongkah-bongkah kerikil yang memisahkanku dari peristirahatan kekal seorang teman.

Baru beberapa minggu yang lalu aku masih duduk bersamanya mengelilingi meja yang sama, membahas hasil kerja bersama dalam rapat rutin triwulan kami. Baru sebulan yang lalu aku berkumpul bersama teman-teman sepermainan di rumahnya yang kami jadikan markas. Ketiga anak lelakinya tentu bergabung bersama, bahkan si sulung itulah kepala regu kami.

Masih sulit kupercaya bahwa baru saja kami menyaksikan raganya disimpan rapi dibalik bongkahan tanah merah bertabur bunga. Belum ada satu minggu sejak kuhadiri doa untuk ketenangan arwah seorang nenek dari teman. Sehari sesudahnya, sms teman lain kuterima. Informasi lain seputar duka cita. Seorang teman sekelas sewaktu SMP meninggal karena leukemia. Jadilah minggu ini kuiisi dengan berkeliling rumah duka dan pemakaman.

Letih yang menghinggapi badan membuatku bertahan dan segera terlelap ketika berhasil mengunci pintu rumah dan mencapai kamar tidurku. Aroma yang melekat di rambut tak mampu menunda ritual istirahat malamku. Hmm… kali ini aroma dupa membuka celah bagi rasa yang lain. Rasa rindu.

Bahasa Musik Anak Muda Jepang

Setidaknya ada 2 kemungkinan setiap seorang musisi muda pulang sedari menonton konser bermutu. Musisi muda itu akan termotivasi untuk berlatih lebih giat. Itu kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua, ia akan berhenti belajar musik karena merasa ia tak akan mampu sehebat musisi yang ditontonnya.

MENGAMBIL tempat di Teater Kecil, Taman Ismail Jakarta, pada 20 April 2008, sore hari, sekelompok musisi muda dari Jepang mencoba mengurai kemungkinan-kemungkinan di atas dengan jalan kesenian yang mereka tempuh. Dengan dominasi alat tiup, kelompok yang menamai diri Chanchiki Tornade ini menghipnotis penonton yang hadir untuk menemani mereka hinga penampilan usai.

Konser yang bertajuk ‘Chanchiki Tornade from PASAR to PASAR at TIM’ ini adalah salah satu bagian dari rangkaian KITA!! Project yang diadakan oleh The Japan Foundation dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan persahabatan Indonesia dengan Jepang.

Tampaknya Jepang bukan lagi sekelompok bangsa yang tertanam di benak kita sebagai penjajah. Lewat musisi muda mereka, misi kesenian yang dihidupkan ini berupaya mengakrabkan diri dengan saling mencicipi produk kesenian masing-masing. Publik Indonesia pun tak kalah ramah. Mereka mebalas dengan merangkai puja-puji atas usaha yang ditekuni Chanchiki Tornade.

Itulah yang tergambar dalam pementasan di gedung pertunjukkan yang belum begitu karib dengan publik seni pertunjukkan, termasuk musik. Walau begitu, di tengah-tengah miskinnya pemerintah untuk mengapresiasi seni, sebagai gedung pertunjukkan, Teater Kecil patutlah dilirik. Bukan saja arsitektur luarnya yang mantap dan futuristik, nuansa interior di dalam ruangan pertunjukkannya pun cukup unik dan segar. Ditambah dengan akustik ruangan yang cukup baik, maka lengkaplah ia sebagai salah satu gedung pertunjukkan bermutu di Jakarta.

***

Di ruang gelap itu, ketika para penonton sudah menduduki bangkunya dengan rapih, beberapa perempuan Jepang, lengkap dengan kimono dan lentera, menyeruak di antara penonton. Mereka menyodorkan sesuatu. Rupanya kertas program acara.

Kemudian, di tengah-tengah riuh rendahnya suara penonton – publik musik Jakarta belum mengerti mengapresiasi seni, dan kebisingan mereka mengganggu – muncul suara-suara dari atas panggung. Lalu, samar-samar, seperti ada suara tambahan yang melagu dari kejauhan. Suara-suara itu bergerak mendekat. Menyusup dari arah belakang penonton yang mengisi celah di kanan dan kiri bangku.

Ternyata suara-suara itu datang dari trompet dan klarinet. Kemudian mereka naik ke panggung, bergabung, membentuk formasi, dan memainkan sepotong karya yang mereka beri judul Romantic Circus Band.

Sambung karya kedua, dan BUM! Mendadak karya yang menggelegar ini membungkam kebisingan yang ada. Komposisi lagu berjudul Super Habotan ini langsung digarap mereka dalam formasi lengkap: 3 saksofon (alto, tenor, sopran), 1 flute, 1 klarinet, 1 trompet, 1 tuba, 1 trombon, 3 perkusi (triangle, snare, tam-tam), dan iringan dari piano.

Lewat pilihan motif-motif yang bervariasi, lagu ini dibawakan dengan amat cepat. Sesekali tenor, alto, dan sopran saksofon saling bersahutan. Membentuk sebuah kalimat yang ekspresif dan eksotis. Kekayaan ini pun diperkaya dengan iringan perkusi yang intensitasnya dijaga konstan.

Karya ketiga mengagetkan kembali. Setelah sebelumnya penonton diserbu musik yang ramai, yang berikut ini justru amat kontras. The Gentle Dessert of Coconut – nama karyanya – amat syahdu, intim. Melodi dibawakan oleh saksofon sopran yang diiringi piano oleh Shunsuke Okuchi.

Memainkan alat tiup memang cenderung mudah. Tapi untuk menghasilkan suara yang berkarakter tidak bisa dianggap sepele. Butuh ketekunan yang luar biasa untuk mencari warna suara yang personal. Suara saksofon dari Hiroshi Suzuki, pimpinan Chanchiki Tornade, setidaknya mempu menghasilkan suara yang khas. Bukan saja khas, tapi di usia yang masih muda, Hiroshi sudah memiliki kematangan. Ia tidak hanya memiliki kematangan instrumentasi, tapi juga musikal. Itu dibuktikannya dengan improvisasi yang begitu luar biasa. Kadang ia meringkih, atau melolong panjang lewat instrumen logam yang penciptaannya dikembangkan dari klarinet tersebut.

Belasan lagu yang lain dibawakan para musisi muda Jepang ini dengan amat lancar. Mereka tak lagi berbicara teknik. Tapi menukik ke dalam esensi bermusik dalam sebuah kelompok yang lebih membutuhkan kekompakkan dan kesehatian. Penampilan mereka dalam berbagai formasi – trio, duo, kwartet, lengkap – selalu melahirkan tepuk tangan panjang dan elu-eluan dari penonton.

Walau didominasi oleh nuansa minor harmonik khas timur tengah, namun lewat mereka nada-nada muram ini justru dibahasakan lain. Aransemen yang berupaya mengawinkan musik tradisi dengan modern kontemporer, memperlihatkan semangat orang muda yang mendobrak kemapanan. Mendobrak kekakuan dan kebakuan. Terus mencari, menggali, dan mendandani seni.

Namun, kelompok yang sehari sebelumnya tampil di Jogja (di sini mereka bermain musik di atas becak sambil berkeliling kota) belum berani memasang wajah mereka dengan tegas. Untuk disebut pop, mereka terlalu cerdas. Untuk disebut jazz, itu pun kurang pas. Juga tidak pas untuk sebutan kontemporer, karena mereka masih malu-malu menuju ke arah itu. Tapi entah mengapa, keragu-raguan sikap musik mereka justru menghadirkan kekayaan tersendiri. Karena kita bisa mendengar bunyi-bunyi hasil perkawinan musik tradisi, jazz, dan kontemporer secara bersamaan.

Di lagu-lagu terakhir, tiba-tiba saja mereka turun panggung sambil memainkan instrumen. Lalu mengajak para penonton untuk menuju lobi gedung. Di sana mereka membangun sebuah panggung imaji. Imaji akan sebuah ruang publik yang ramai seperti pasar. Di mana kemapanan untuk sementara ditanggalkan, lalu berganti menjadi ajang saling memberi. Di situ Chanchiki Tornade memberi sentuhan kesenian yang khas buat publik musik Indonesia.

Dan mungkin saja, salah satu sentuhan yang diberikan mereka kepada para penonton, berbicara mengenai kemungkinan pertama, yakni memotivasi musisi muda Indonesia untuk bergiat dalam musik. Sebuah jalan panjang yang tidak mudah untuk dicintai. Karena mencintai berarti berkorban.

Saturday, May 17, 2008

Hadiahmu Untukku di Hari Ulang Tahunmu

Telah dekat hari ulang tahunmu, Pacarku. Tentu saja aku akan menyiapkan sebuah hadiah untukmu. Ah, inilah saat-saat sulit yang telah menjadi konsumsi kecemasan otakku jauh-jauh hari sebelumnya. Aku termasuk jenis laki-laki yang tak bisa memilihkan sebuah hadiah dengan tepat. Memang, aku mengenal beraneka pernak-pernik hadiah; kue cokelat, sebuket bunga, selingkar cincin, kalung, bandana untuk rambutmu yang terurai, arloji mungil, boneka lucu, dan mungkin sehelai baju. Tetapi, pengetahuanku tentang mereka hanya berupa setarikan asap rokok saja, bukan sehisapan sebatang rokok.

Ada sebuah benda yang begitu kukenal. Kamu telah lama tahu tentang itu dan sering juga mengomel karenanya; buku. Bukulah satu-satunya benda yang sangat kukenal lekak-lekuknya, saat ini.

“Kamu kok cuma mikirin buku mulu sih? Emangnya apa aja yang diberikan buku buat kamu; selain nilai test jelek, uang saku cepat habis, tak pernah traktir. Kamu make kacamata kan karena buku juga? Aku heran sama kamu! Hu, begitu bangganya dengan sebutan Predator Buku.”

Yah… begitulah, Sayang. Kamu tahu, mungkin cuma bukulah yang sangat bisa kupahami. Dari aroma buku mana yang paling enak dibaui, rasanya yang selezat masakan ibu tercinta, warnanya yang menarik, harga yang cocok, tempat-tempat terterang sampai paling tersembunyi yang bisa didatangi untuk mencarinya, sampai pada singgasananya di kamar pun (tentang singgasana ini, aku sudah membayangkannya; buku yang akan kuberikan sebagai hadiah buatmu, harus kamu letakkan di sudut utara kamarmu, tepat di dalam pelukan boneka beruang kesayanganmu) aku ahli merancangnya.

***
Hari ulang tahunmu. Kita bersepakat tanpa kata terucap, ber-candle light dinner di sebuah restoran di pinggir Margonda Raya. Restoran ini punya dua ruangan berbeda. Yang satu dibatasi tembok-tembok, sedangkan yang lainnya hanya dipagari pagar kayu setinggi pinggang kita. Dan tentu saja, yang kedua menjadi pilihan kita.

Pengunjung tidak ramai benar, malam ini. Maklum saja, hari ini bukan akhir pekan; waktu yang tepat bagi masyarakat pekerja merayakan sepekan kerja mereka. Hingga, kita pun bisa dengan leluasa memilih meja terujung. Di bawah kita, sejauh mata memandang, terlihat pohon-pohon mulai menghitam hijaunya oleh persetubuhan waktu dan kelam. Di antara hijau yang menghitam itu, terlihat pendar kekuningan dan putih dari lelampu yang mulai dinyalakan. Petanda, penghuni kompleks perumahan Depok Indah mulai membenah diri menyambut malam. Dan dari ketinggian, kita terpesona oleh kilau getar kehidupan di bawah sana.

Inilah pemandangan indah yang jarang kita temui. Maklum, hari-hari kita selalu dipenuhi dengan sumpeknya perkampungan Jakarta, yang terkadang membuat kita rindu untuk mengunci kamar, lalu berdua saja kita habiskan waktu seharian.

“Ah, serasa di puncak,” katamu diiringi senyum yang selalu membuatku pengen tersenyum seribu kali.

Kamu memesan menu spesial yang disajikan restoran ini. Tentu saja aku hanya bisa mengekor pesananmu (sejak kapan sih aku bisa menjadi seorang pemilih menu makanan yang handal?).

Aku memperhatikan gemulai tanganmu yang menyumpit mie dari mangkok. Lalu, perhatianku
beralih pada tarian dua belah bibirmu yang menjepit mie. Kamu menelannya dengan menggerakkan kedua ujung bibirmu ke dalam, mendekati gigi. Ah, pasti kamu tak sadar, bibirmu jadi begitu enak untuk dipandang saat ini.

Kontinyu! Gerakan tangan dan bibirmu terus berulang. Memenjara perhatianku. Membuat pesananku cuma bengong menunggu giliran untuk dicicipi.

Ujung-ujung rambutmu jatuh disamping leher, menyentuh pundak bajumu yang berwarna jingga. Ada juga beberapa helainya menghiasi atas dadamu yang halus, kuning keputihan. Terkadang ujung rambutmu yang menyebarkan wangi tetumbuhan, bergerak-gerak oleh sapuan angin.

Aktifitas memakan miemu berhenti mendadak. Kamu pandangi aku.

“Kenapa mienya nggag dimakan?” katamu.

“Aku sedang berdoa, Tri. Melantumkan seberkas harapan tentang kita, yang mungkin bila kuucapkan dihadapanmu, kamu akan mencapku ‘gombal’. Yah sudah, aku ucapkan itu di hadapan Tuhan saja. Setidak-tidaknya — bila Ia pun menilaiku gombal — suara-Nya kan tak bisa kudengar!?”

Kamu menggelengkan kepala dengan halus, ditimpali sekilas senyum. Aku bisa menebak, apa kata hatimu bila menggeleng dan tersenyum sekilas itu; “dasar gila!”. Tersenyum lagi dan melanjutkan memakan miemu.

Tak banyak kata terucap dariku hari ini. Kita sudah jalan bareng selama dua tahun. Tetapi kebersamaan kita tetap seperti ini-ini saja. Untuk itu, aku harus berterima kasih padamu. Kamu telah menerimaku apa adanya dan tak pernah ingin untuk merubahnya. Itulah penilaianku! Mungkin penilaian orang lain beda. Atau perasaanmu pun beda. Mungkin juga penilaianku salah, tak sesuai keadaan sebenarnya. Bisa jadi, kamu sering berucap kekesalan tentangku di forum-forum curhatmu. Mungkin kamu juga punya pacar lain, selain aku?! Bisa saja bukan?

Ah, persetanlah dengan kemungkinan-kemungkinan-kemungkinan itu. Yang penting, engkau selalu hadir dengan kesempurnaanmu dalam hati dan pikiranku. Persetan dengan syak wasangka, pandangan orang lain, persetan pula dengan kenyataan-kenyataan lainnya, bahkan persetan pula dengan perasaanmu yang mungkin berbeda dengan penilaianku. Bukankah kamu yang ada di dalam hati dan pikiranku adalah realitas juga untuk diriku dan untuk sebuah dunia kecilku?

***

Tahun lalu, saat ultahmu yang kedelapan belas, aku menghadiahkanmu sebuah boneka kelinci. Sekarang entah di mana boneka itu. Aku tak pernah bertanya tentangnya lagi, kamu pun tak pernah berceritera lagi tentang boneka kelinci yang kubeli di Blok M itu.

Boneka itu aku beli setelah terlebih dahulu berkonsultasi pada seorang temanku. Ia memang telah terkenal dengan kisah-kisah cintanya yang mendebar-debarkan. Maka, sering ia dijadikan tempat berkonsultasi cinta oleh anggota geng kami. Jadi, boneka itu bukan hadiah dariku untukmu saja. Melainkan hadiah dari aku dan temanku untukmu.
Tahun ini aku tak mau terus-menerus mematikan inderaku. Aku tak mau lagi bertanya pada orang lain. Aku bertekad membeli sebuah hadiah untukmu yang dipilih hati dan pikiranku sendiri tanpa berkonsultasi dengan orang lain atau setelah repot membolak-balik buku-buku petunjuk bercinta.

Bergentayanganlah aku di beberapa mall, bolak-balik di counter-counter pernak-pernik hadiah, mondar-mandir di eskalator, nongkrong di lift…. Namun sampai kaki ini penat dan tubuh ini merinding lemas, aku belum menemukan hadiah yang cocok untukmu.

Malah kudapati diriku sedang asyik melihat-lihat buku yang terpajang di rak-rak sebuah toko buku kecil. Aku betul-betul capek waktu itu, Sayang. Aku ingin mengaso sejenak; membaui aroma buku di sekitarku, membersihkan mataku dengan beraneka warna gambar sampul buku.

Aku mulai mengambil buku itu satu-persatu, sebuah kebiasaan yang tak pernah bisa dikekang. Kubaca! Kuhabiskan sejamku di sana. Terhanyut dalam ceritera, mengunjungi tempat-tempat terjauh dari dunia, pengembaraan sukmaku mengasyik saat itu. City of Love and Ashes bawa aku mengunjungi belantara cinta di Mesir, kala perang, kala perjuangan bertubrukan dengan keinginan diri. “Buku bagus,” bisik hati kecilku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun membeli buku itu. Dan hati langsung berkata; inilah hadiah untukmu.

Yah, menurut orang kebanyakan, buku adalah sebuah hadiah yang paling netral. Tak bisa mewakili perasaan sang pemberi. Menurutku mereka salah. Dengan memberimu buku ini, aku berharap (mungkin sebuah harapan yang teramat muluk) kamu akan selalu setia bersamaku, walau hal itu akan membawamu pada beberapa konsekuensi hidup yang sangat tak menyenangkan.

***

“Mana hadiahnya??” Kata-katamu yang selalu manja, pasti akan menghentikan segala lamunan, pengembaraan sukma, dan segala aktifitas berpikir otakku. Yah, kamu selalu mampu membawaku kembali ke bumi yang real, entah semabuk apa aku dengan segala alkohol otak ini.

Ku keluarkan buku itu dari tasku. Tak ada sampul kertas kado atau pita merah muda. Dengan hati yang sedikit cemas dan tangan yang bergetar, kuberikan buku itu padamu. Kau menerimanya (tentu dibarengi senyum indahmu)! Ingin kulayangkan juga hadiah kecupan tulus untukmu, wakil dari pijar-pijar tak bernamaku. Lagi-lagi, peraturan darimu dan keengganan melanggar peraturan itu, menghentikanku. Ah, basi! Tak ada keromantisan apa-apa! Pacaran macam apa ini? Hatiku berumpat. Tapi kulihat kamu, asyik-asyik saja. Seakan-akan telah memaklumi segala kekurangan yang harus kita terima. Misteri apa lagi yang kamu sembunyikan?

Hari beranjak ke jam setengah delapan malam. Dan kita harus pulang kira-kira setengah jam lagi. Itu peraturan yang kamu buat kira-kira sembilan bulan yang lalu. Saat itu, aku begitu menyesal telah memacarimu. Ingin kuputuskan hubungan kita saat itu juga. Kau tak memberi kebebasan dan kesempatan untuk nakalku beraksi. Tapi, sekali lagi senyummu, sikapmu, parasmu, rambutmu, kulitmu, kukumu, matamu, dan segala-mu lainnya, memborgol ide gilaku.

Kita menjalani waktu dengan berpegang pada peraturan-peraturanmu. Lambat laun aku jadi mengerti. Pagar yang kamu buat adalah pagar yang bakalan mengajari “nakal” lain yang timbul dari pijar-pijar perkelahian hati dan pikiranku. Pijar-pijar seperti ini, pasti telah meracuni banyak ceritera hidup sebelum ceritera hidup kita. Sehingga, janganlah heran bila ia punya banyak nama dan penggambaran. Karena dalam sebuah periode kehidupan, selalu akan ada segelintir orang yang merelakan waktunya untuk menyepi dan menghayati pijar-pijar ini secara mendalam dan utuh. Merekalah para ‘tukang kata’ yang selalu menempuh jalan yang sunyi, sambil mengkreasikan beraneka rupa ungkapan jiwa!

In My Place dari Cold Play, terdengar dari loud speaker yang ada di dinding dan tongkat penyangga atap rumah makan.

Apakah mereka yang bekerja di tempat ini punya pengetahuan Bahasa Inggris yang terbatas, sehingga lagu itulah yang diputar di malam yang butuh keromantisan ini?

Aha, bisa jadi di antara mereka ada yang sedang berkisah cinta juga. Mungkin kisah yang tak kesampaian? Maka ia memutar lagu penantian itu, sekedar untuk menguatkan komitmen cintanya atau untuk meruntuhkan kepongahan orang yang ditaksirnya. Atau mungkin sebagai pelarian perasaan?

Bukankah sebuah lagu kadang-kadang bisa membuat kita meloncat-loncat, memelintir-pelintir kepala, mengacung-acungkan tangan, berteriak dengan suara keras semampu kita, membuat kita tertidur dengan enak? Lantaran melodi dan syairnya mewakili sepenggal pengalaman hidup kita. Tetapi, tentu saja tak ada satu lagu pun yang sanggup menuntaskan sebuah kenangan hidup kita dalam beberapa menit durasinya. Karena itulah, kita masih saja memburu lagu-lagu baru untuk memperbanyak koleksi hiburan jiwa kita.

***

Aku menggandengmu ke kost-kostanmu. Sebuah Suzuki Carry merah kecoklatan diparkir di dekat pintu pagarnya. Kamu buka pintu pagar! Aku beranjak hendak masuk bersamamu. Bukankah inti perayaan ultahmu ada di kamar nomor 11, lantai I, bangunan ini? Kamu pandangi sekilas Suzuki Carry itu.

Kamu bersikeras menahanku untuk tidak masuk. Bagaimana mungkin, Sayang? Aku belum memberi hadiah terindah untukmu. Maka, aku bersikeras untuk ikut masuk.

“Hai, ada tamu tuh. Udah dari tadi nunggunya.” Kata temanmu padamu, sambil memamerkan sekilas senyum yang tampak tak cocok untuk dipelototi.

“Kamu langsung pulang aja, sekarang. Besok kan ada test!! Aku lagi ditunggu tamu tuh!” Katamu, lalu langsung masuk dan menutup pintu pagar.

Aku berbalik! Melangkah menyusuri sepi gang. “Ah, hadiahmu untukku di hari ulang tahunmu, begitu tak menyenangkan!!”

Palmeriam, Oktober 2004

Dari Sebuah Lukisan Udara

Para tualang tolong dengarkan;
akankah kalian tempuh sunyi
alam sempurna di malam purba
pula pagi sang embun sulung?

Jejak-jejak tercipta lantas
menghilang
adalah kisah-kisah yang sayang
diabaikan.
Jejak-jejak tercipta kadang
membekas
hanya kilasan rasa; panas dan
dingin.
Para tualang tolong dengarkan;
mendatangi negeri mimpi, sendiri menenun impian
mengabarkan hidup pada debu dan kayu
pendengarmu bisu beku?
Kisah-kisah keluh di ingatan
mengalir lintas lidah menyentil hati lapar,
menyambar kilat-kilat angan
kadang mabuk kemabukan kadang... ah
sudahlah.
Wahai pengembara, teruslah
berjalan.
Walau jejak bukan abadi pun
sempurna.
Namun setidaknya cipta lukisan
udara,
dengan debu peleset alas kakimu!

September 2006

*Dimuat di Suara Pembaruan edisi Minggu 11/5/08

Buku Harian

Segala yang tercatat
akan membekas
Segala yang membekas
akan terkenang

Dedaunan kering luruh
dan berkecipak
di setapak
Dentangdenting botol yang menyapa malam
dunia temaram
Dendang kecil gagak di pucuk
cemara
darah membara
Tak'kan terulang
Tak'kan terulang
Tak'kan terulang

17/7/2006

*Dimuat di Suara Pembaruan edisi Minggu 11/5/08

Bayangan

Betapa cintanya sang bayangan
Pada tubuh
Selalu ia ada di sana,
"kehendaknya"
Menemani tubuh

Betapa cintanya sang bayangan
Pada tubuh
Ia selalu "ingin" ada bersama tubuh
Kapan dan di mana saja
Betapa cintanya bayangan
Pada tubuh
Walau ia "tahu" tubuh tak "tahu"
Ia "ingin"
Betapa cintanya sang bayangan
pada tubuh
Gerlap gemerlap cahaya ia pun berubah-ubah
Ke kiri ke kanan selatan utara berputar bagaikan gasing
Namun kaki tubuh tumpuan
bayangan
Betapa cintanya sang bayangan
pada tubuh
Walau ia tahu, ya bayangan tahu
Tubuh tak pernah memandang ke bawah
Mengajaknya tertawa. Walau ia tahu, ya
Bayangan tahu tubuh tak selalu tahu ia ada.
Ketika gelap tiba, dan matamu tak mungkin melihatnya
Bayangan selalu "ingin" ada di sana,
"ingin" beserta tubuh
Hingga tiba di bawah sinar lampu
Betapa cintanya sang bayangan
Pada tubuh
Dan ia tahu, ia harus pergi
Suatu hari.

Margonda, 28/11/07

*Dimuat di Suara Pembaruan edisi Minggu 11/5/08.

Pasrah

lelah hati tenggelam dalam air
dingin angin menusuk pikiran buruk
deras air basahi emosiku

asap-asap nikmat memenuhi paru-paruku
mengulang hari yang tak pernah bersahabat
hanya di temani tujuh - sembilan nyawa yang memerhati
dengan alunan suara yang memecah hati
terdiam darah mengalir deras
oh Tuhan ku tak sampai menjalani
semua cobaan yang Kau jatuhkan
menanti panggilan dari Mu
ampuni jahatku...
maafkan dosaku..

Waktu Itu..

waktu dia cinta...semua indah
setiap lembar waktu kita ukir
air mata mu selalu ku usap
tawa mu selalu ku temani
setiap musim kita jalani
dalam cinta kehangatan dan kasih

semuanya milik kekuatan cinta kita
kesepian mendekati mu
dengan senyum ku buat nyaman dirimu
waktu dia cinta...
waktu terus berlari..
kau mulai menjauh..
ku terdiam sendiri..
tetap menunggu kau kembali..
kata kau dulu "aku selalu cinta.."
tak pernah kulupa..
saat bertemu kau lagi yang bersama dirinya..
kau tersenyum seperti dulu
seakan cinta seperti dulu...
waktu dia cinta...

Thursday, May 1, 2008

Dua Bulan Mencari Kode

Setelah mengalami perjuangan yang cukup berat dan melelahkan, akhirnya Saya berhasil memecahkan masalah: bagaimana memasukkan foto dari Flickr ke dalam blog ini?

Seperti ini kisahnya..

Saya klik salah satu folder album foto Agenda 18, lalu klik satu salah satu fotonya. Setelah muncul foto yang diinginkan, cari pilihan "SHARE THIS" di sebelah kanan agak atas layar komputer Anda (pilihan ini hanya muncul jika Anda adalah si empunya akun Flickr). Lalu jika Anda klik "SHARE THIS" tadi, akan muncul sebuah kotak dengan beberapa pilihan: "SHARE THIS PHOTO","GRAB THE LINK", "EMBED IT",dan "BLOG IT".

Instingtif, Saya klik pilihan "EMBED IT". Ternyata benar! Kode-kode HTML yang Saya butuhkan untuk bisa menampilkan foto di blog ini, memang ada di situ. Pilihan lainnya secepatnya Saya tinggalkan. Segera kode tersebut Saya Copy, kemudian Paste ke dalam salah satu Widget yang tersedia. Dan abrakadabra, beberapa foto terpilih pun muncul di bagian bawah blog ini!

Pemberitahuan bagi Anda semua, Saya sudah mencari kode HTML tersebut selama hampir 2 bulan! Bayangkan, 2 bulan! Mungkin sekarang Anda bisa membayangkan betapa sumringahnya Saya ketika berhasil menemukan kode itu. Leganya :)

Sekarang, Saya siap jika ada yang minta bantuan memecahkan masalah serupa.

Dari Hujan untuk Sepotong Ayam

Siang ini, Jakarta masih saja bersimbahkan air dari langit. Sedari dini hari hujan tak juga berhenti mengguyur adil dimana-mana. Memang aneh “mood” langit jaman sekarang. Kalau dulu Ia punya siklus “menstruasi” teratur, 6 bulan basah 6 bulan kering. Akhir-akhir ini “mood”nya seenak hati, semenit cerah berganti detik basah.

Orang-orang perkantoran memandang nanar keluar jendela, bergantian menatap langit dan jalanan yang becek. Jam makan siang sudah tiba, namun tak ada yang bisa keluar mengisi perut yang cadangan makanannya telah habis terkuras oleh otak. Tak cukup itu, banyak mulut berkomat-kamit menggerutu dan memaki si langit, “Ga’ bisa makan ke Mal seberang deh!!”. Tapi dibalik gerutuan ada pula yang memanjatkan doa, semoga langit berbaik hati berhenti menangis agar sore nanti mereka bisa pulang tanpa menggulung celana dan menjinjing sepatunya.

Di luar gedung-gedung arogan, seorang anak berlarian kecil di tengah rintik hujan. Tangannya yang kecil memegang sebuah payung golf berukuran hampir setengah kali lebih besar dari tubuhnya. Bajunya tipis dan menjadi hampir transparan serupa kulit terkena basahan air, menempel dan memperlihatkan lekukan tulang pundak yang menonjol. Kakinya jenjang tak indah, serupa bangau, kurus, panjang.. namun cekatan berlari di genangan air. Ia sudah mandi seharian dan tak kunjung kering jua.

Semalam, ia mengamati langit dari balik lubang-lubang seng yang menudunginya. Lubang tersebut makin lama makin melebar, memberi celah bagi si anak untuk merasakan sensasi meneropong angkasa saat gelap. Dia berpikiran, “malam ini awan begitu mendung, gelap sekali! Besok pasti hujan…”. Si anak senang bukan kepalang, membayangkan ia tidak usah datang ke “sekolah-sekolahan” di kolong jembatan sebelah. Dia segera menyiapkan payung andalan untuk menjajakan jasanya. Sebuah payung golf, pemberian seorang sahabat yang hilang entah ke mana.

---

“Bletak!”. Sebuah kerikil menghantam kepala seorang anak yang sedang mengorek-ngorek tanah. Sontak dia menoleh sembari meringis kesakitan. Dia mencari asal lemparan kerikil namun tak menemukan siapa-siapa kecuali seorang anak perempuan kumal memperlihatkan gigi-giginya yang setengah putih setengah hitam. Ia berteriak “ Sakit tau!!”. Si anak perempuan tertawa sambil berlari menjauh dan menghilang di balik lusinan gubuk kolong tol.

Si anak laki-laki kembali asyik mengorek tanah. “ Lagi ngapain sih?”, tiba-tiba anak perempuan itu sudah berjongkok di sampingnya. Lelaki kecil itu kaget, setengah marah ia mendorong anak perempuan kecil sampai jatuh terduduk “ Ngagetin aja! Muncul tiba-tiba kaya setan!!” dan yang dimarahi, kembali hanya nyengir.
“Marni..”, si anak perempuan mengulurkan tangannya, si anak lelaki melengos dan kembali mengorek tanah.
“Nama kamu siapa? Aku Marni..”, yang ditanya masih saja diam asyik sendiri. Marni cemberut, dan seketika dia berteriak “BUDEKKKKK!!!”. Si anak laki-laki terloncat kemudian berdiri, “Iya!!! Gue tau loe Marni! Terus kenapa?”. Marni nyengir lagi, ia ikut berdiri dan mengulurkan tangannya lagi, “ Kamu siapa?”.
“ Didit,” si anak lelaki menjawab ketus kemudian berjalan meninggalkan Marni, mencari tempat baru untuk dikorek-korek. Marni mengikuti di belakangnya, “ Kamu lagi apa sih dari tadi?”.
Didit diam, dia merasa sangat terganggu karna kehadiran bocah cerewet ini. “ Bisa ga sih loe ga ngikutin gue? Ikutin aja tuh anak ayam sama ibunya!!”, Marni menoleh melihat kumpulan ayam yang sedang mengais tanah.
“ Tapi aku kan bukan ayam. Aku kan sama kaya kamu..”
“ Emang siapa yang bilang loe tuh ayam?! Bego banget sih jadi orang!” Didit tidak habis pikir kenapa hari ini dia tidak bisa mengorek tanah dengan tenang seperti hari biasanya.
“ Tadi kan kamu suruh aku main sama ayam..”, Marni menatap Didit dengan polos. “Bego banget sih loe!!” Didit jengkel dan mulai ingin memukul gadis kecil ini, tapi didit ingat Ibunya pernah bilang “ Jangan pernah memukul perempuan, nak...Dosa!”.
Akhirnya Didit mengalah, Ia membiarkan si anak perempuan ikut mengorek tanah bersamanya. Walaupun dalam hati Didit tak yakin, apa Marni tahu tujuan dia mengorek tanah.

Sejak hari itu, setiap hari Marni selalu ada di samping Didit, entah untuk mengorek tanah ataupun hanya sekedar bercerita. Lambat laun Didit mengerti, Marni adalah orang baru di lingkungan tempatnya tinggal “Pantas ia terus mengikutiku..” batin Didit. Sebelumnya Marni bukan warga kolong tol seperti dirinya, Ia bercerita bahwa dulu Marni dan Keluarganya tinggal di sebuah perumahan. Tetapi suatu hari kebakaran hebat mengantarkan mereka ke tempat kumuh seperti sekarang ini. Ayah Marni meninggal seketika saat kebakaran dan yang tersisa hanya Marni, Kakak, serta Ibunya. Ibu Marni berjualan makanan untuk menyambung hidup mereka sekeluarga.

Didit berpikir, “ Betapa enaknya hidup Marni dulu…Paling tidak dia sempat merasakan jadi orang yang punya segala..”. Didit jengah dengan hidupnya yang selalu susah dari waktu ke waktu. Sejak bayi sampai umurnya sekarang yang ia punya hanya ibu dan rumah kolong tolnya. Entah kemana Ayahnya, Didit tidak mau tahu seperti ibunya tidak pernah menceritakannya. Ibunya selalu sibuk memunguti plastik-plastik untuk dijual kepada para penadah setiap harinya. Itu usaha satu-satunya untuk bisa memberi makan Didit selama 10 tahun ini.

Marni tidak hanya menemani Didit mengorek tanah, Ia juga mengenalkan Didit pada berbagai hal. Didit kagum dan maklum, mungkin karena dulu Marni sempat sekolah jadi Ia banyak tahu. Suatu hari kala hujan, sepasang anak kecil itu hanya duduk di pinggiran salah satu gubuk kolong tol. Si anak lelaki kesal karena hujan membuatnya tak bisa mengorek tanah dan si anak perempuan terus saja berbicara tentang apa pun. Marni mengerti Didit kesal karna hujan, “ Dit, ngojek payung yuk!”. Didit diam tidak tertarik.
“Ayo, nanti bisa dapet uang. Terus uangnya bisa buat beli apaaaa ajaaa…”, Marni membuat lingkaran besar dengan kedua tangannya. “ Ngojek payung kan gampang Dit, tinggal minjemin payung ke om-om atau tante-tante gitu.. Terus kita dapet uang deh!”.
“Ga mau! Ga enak! Enakan ngorek tanah!”, Jawab Didit ketus.
“ Emang kamu ngorek tanah setiap hari buat apa sih?”
“ Buat bantuin anak ayam cari makan…jadi mereka bisa gede badannya.”
“ Terus?”
“ Ya, kalo udah gede ditangkep terus dimakan…”
“ Hahahaa…Jadi kamu mau makan ayam?”
“ Iya…”, jawab Didit setengah tertunduk. Ia malu, ingat bahwa dulu pasti Marni sering makan Ayam. Sedangkan Ia jarang sekali makan Ayam, pernah hanya sesekali, tidak sampai jumlah jari di satu tangan. Padahal daging ayam enak, tapi sayang ibu lebih doyan nasi campur garam atau kecap, sesekali tambah tempe, tahu atau telor. Kata Ibu, daging ayam mahal. Maka ketika Didit melihat ada sekumpulan ayam kecil di depan gubuknya setiap hari , ia bertekad memakan mereka suatu hari nanti.
“ Dari pada susah-susah ngasih makan ayam, lebih enak langsung beli Ayam Goreng-nya.”, Marni menjawab polos.
“ Tapi’ kan duitnya ga ada…”
“Makanya ayo ngojek payung aja, jadi bisa makan ayam goreng.”, usul Marni dengan mata berbinar.
Didit ragu sejenak, tapi semangat Marni terlihat menjanjikan. Maka, tanpa ragu anak laki-laki itu berlari mencari payung di dalam gubuknya. Dan seketika Marni pun telah siap dengan payungnya yang sangat besar. Didit hampir tertawa melihat gadis kecil itu membawanya dengan susah payah.

Pada akhirnya, mengojek payung menjadi suatu keharusan dikala hujan datang. Dan yang menyenangkan bagi Didit adalah ayam goreng nan garing di akhir petualangan mereka. Dia tidak pernah lagi menolak ajakan Marni untuk menjajakan payung di jalan-jalan besar. Bahkan sering kali Didit lebih sigap membaca kapan hujan akan datang dan tentu berikut ayam gorengnya.

Suatu hari, hujan datang begitu derasnya. Seperti biasa Didit dan Marni berlarian bersama anak-anak lainnya, saling berlomba mencari lembaran rupiah dari para pekerja kantoran. Tapi kali ini, air hujan kurang bersahabat. Mereka menggenang dimana-mana bahkan di jalan protokol tempat kendaraan berlalu lalang. Genangan ini rupanya tak mau kesepian, mereka bergabung antara satu kubangan dengan yang lainnya sehingga jadilah jalan ini tergenang air begitu tinggi. Mobil dan motor hanya bisa terdiam ditengah-tengah. Mereka terjebak tak bisa bergerak. Yang lainnya pun hanya menunggu di ujung jalan yang tidak tergenang.

Didit dan Marni asyik mengejar langganan mereka, bahkan kali ini makin banyak orang yang membutuhkan ojekan itu. Didit senang bukan kepalang, membayangkan hari ini bisa mendapat ayam goreng bukan hanya sepotong tetapi tiga potong untuk Ibunya dan Marni sebagai sahabatnya. Genangan air di jalan bukan hambatan, walau badan kecil mereka harus menahan arus yang begitu kuat. Kaki kecil itu sekuat tenaga tetap berpijak demi sedapnya Ayam Goreng Bu Sum langganan mereka.

Hujan tak kunjung henti. Air makin tinggi, dingin pun semakin menusuk raga anak-anak kurus itu. Marni terbatuk-batuk sambil menggigil. Tubuh gadis ini rupanya tak kuat menahan hawa yang terus berhembus melewati baju tipisnya. Dia memutuskan tak lagi berjalan dan hanya meringkuk di pinggiran halte mencoba menghangatkan diri. Didit menghampiri Marni, dengan menggebu anak laki-laki itu menarik-narik gadis ini untuk turun kembali ke jalan. Tetapi Marni lelah…Marni lemah. Maka ia meminjamkan payung besarnya untuk Didit karena miliknya telah berlubang dimana-mana. Didit sumringah dan kembali berlarian sambil berjanji, Marni akan mendapat 2 potong ayam goreng hari ini.

Waktu berlalu, hujan telah reda dan kantong Didit pun penuh sudah. Dia berlari mencari Marni dan ingin segera mengunyah yang renyah-renyah itu. Tetapi Marni tertidur diantara orang-orang yang berjejalan. Tubuh kecilnya digoncang-goncang Didit.
“Marni..Marni…Gimana sih loe malah tidur disini?!”
Tapi Marni diam. Dia beku tak terganggu sedikitpun. Tubuh itu tak bereaksi bahkan terlihat membiru dimana-mana. Didit kelu, dia kosong…
Detik berganti..menit pun berlalu.. Marni tiada! Didit terhentak dan menjerit seketika, memanggil Marni…memanggil Ibunya..meneriaki setiap kata tanpa sadar. Anak itu menangis kejang menyaksikan sahabatnya tergulung meringkuk kaku.

---

Didit sudah selesai menjajakan payungnya hari ini. Walau langit belum cerah benar , ia memutuskan segera ke warung Bu Sum dan pulang ke rumah. Didit membeli dua potong ayam untuknya dan Ibu. Sesampainya di rumah Ibu menyambut dengan dua piring nasi aking hangat baru matang. Sebelum makan, seperti biasa anak itu hening berbicara pada Sang Pencipta. Kemudian ia berbisik pada sahabatnya…” Marni, semoga ayam goreng di surga sama enaknya dengan Bu Sum punya…”.


-HuN, Depok 9 Maret 2008-

Mempertanyakan Sosok Thaksin Sesungguhnya


Judul : Thaksin: The Business of Politics in Thailand
Penulis : Pasuk Phongpaichit dan Chris Baker
Penerbit: Silworm Books, Chiang Mai, 2004
Tebal : ix + 302 halaman

MAJALAH Money and Banking di Thailand edisi bulan Desember 2004 mengeluarkan daftar 500 orang kaya di negeri gajah putih tersebut. Dari daftar itu keluarga Shinawatra, alias keluarga Perdana Menteri Thailand, menjadi keluarga paling kaya di Thailand. Selain itu, perusahaan keluarga dalam bidang telekomunikasi ini tercatat sebagai perusahaan terkaya di Thailand.

KORAN The Nation (edisi 14 dan 15 Desember 2004) yang mengumumkan hasil survei dari Money and Banking ini juga menunjukkan bahwa kekayaan perusahaan naik 70 persen dalam waktu setahun terakhir ini. Apakah semua kekayaan ini adalah berkat kedudukan yang dipegang oleh Thaksin sejak awal 2001? Banyak dugaan akan mengiyakan pertanyaan tadi, dan orang pun bisa menduga lebih jauh, Thaksin dan keluarganya akan menjadi salah satu keluarga penting dan kuat di wilayah Asia Tenggara

Nama Thaksin Shinawatra di regio Asia Tenggara jadi buah bibir karena ia membiarkan pasukan militernya membantai para demonstran di kawasan Thailand selatan awal Oktober lalu. Sementara itu, di dunia internasional, ia dianggap sama kelakuannya dengan Silvio Berlusconi, Perdana Menteri Italia, pemilik industri media besar yang jadi pemimpin politik.

Siapakah Thaksin Shinawatra sesungguhnya? Bagaimana ia memulai karier politiknya? Apakah ia sama kelakuannya dengan para jenderal yang pernah memimpin negeri gajah putih tahun-tahun sebelumnya? Dan, apakah Thaksin akan menjadi salah satu "orang kuat" Asia Tenggara berikutnya dalam deretan para pemimpin baru di kawasan ini? Buku ini mencoba untuk menguak sisi-sisi kehidupan Thaksin, sembari menaruhnya dalam konteks perubahan politik dan ekonomi yang terjadi di Thailand. Pasuk Phongpaichit, penulis buku ini, adalah guru besar ekonomi di Universitas Chulalongkorn, yang bekerja sama dengan Chris Baker, seorang penulis lepas yang juga bersama Pasuk telah menulis beberapa buku lain tentang Thailand.

***

DALAM sejarah politik di negeri ini tercatat tahun 1973 terjadi kudeta politik dari pemerintahan sipil oleh kalangan militer. Sejak itu berkali-kali para jenderal memimpin negeri gajah putih ini, dan baru pada awal tahun 1990-an tradisi militer berpolitik terhenti, dan para pebisnis yang juga tertarik masuk politik menguasai arena tersebut. Kita pun ingat, krisis ekonomi di Asia Tenggara dimulai dari kejatuhan baht Thailand, dan kemudian meruntuhkan fondasi ekonomi macan (kertas) Asia lainnya: Indonesia. Sementara kini Thailand telah melepaskan diri dari kemelut ekonominya, Indonesia masih terus bergulat antara menjadi makin mundur atau perlahan-lahan bergerak maju.

Dalam konteks kejatuhan ekonomi inilah, sosok Thaksin muncul. Mantan polisi yang juga penyandang gelar PhD dalam bidang penanganan kejahatan dari Sam Houston State, Texas, meniti kariernya jadi pengusaha. Jangan salah, awalnya ia memulai usaha banyak merugi, dan baru setelah mendapat konsesi untuk pengadaan komputer di sejumlah kantor pemerintah ia jadi pengusaha yang sukses.

Untuk terjun ke politik, walau ia pernah jadi menteri sekretaris kabinet sepulang dari studi di Amerika, ia mendirikan Thai Rak Thai, sebuah partai yang menawarkan kebijakan-kebijakan populis. Misalnya, Thaksin pernah mengatakan bahwa ia tak memerlukan gaji sebagai seorang perdana menteri, dan ia akan menyumbangkan seluruh gajinya kepada orang-orang miskin.

Ibarat menunggang ombak laut dengan papan selancar, Thaksin mendapatkan keuntungan dari laju angin yang tepat pada saat ekonomi Thailand terpuruk akhir 1990-an. Thaksin juga menunjukkan keahlian menjaga keseimbangan di atas papan selancar, saat ia mengembangkan bisnis telekomunikasinya, pada waktu bidang ini sedang meroket, dan jadi kebutuhan banyak orang untuk berkomunikasi dengan cara yang makin canggih.

Suami Pujaman Damaphang dan ayah tiga anak ini (Panthongthae, Pinthongtha, dan Phaethongtharn) selalu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang "biasa-biasa" saja yang kemudian bisa mendapatkan semua kesuksesan ini karena kerja keras yang ia lakukan bertahun-tahun. Jarang ia mengungkapkan kondisi sebenarnya bahwa ia adalah generasi keempat keluarga Shinawatra yang sukses berbisnis sejak zaman kakek buyutnya dulu.

***

KEPEMIMPINAN politik dan ekonomi Thaksin mengambil pendekatan yang pragmatis, pragmatis terhadap pasar dan juga pada persoalan politik yang ada. Kemunculan Thaksin bisa dilihat sebagai buah dari krisis ekonomi di Asia Tenggara, tetapi di sini lain juga adalah kemunculan kelompok kelas menengah- terutama kalangan pebisnis-di pentas politik, yang mencoba untuk memperbaiki negeri yang telah hancur akibat krisis ekonomi.

Di sini mungkin orang akan ingat pada Jenderal Soeharto di Indonesia yang juga menggelar kebijakan ekonomi yang pragmatis, proses pembangunan bertahap, sebagai respons atas krisis ekonomi yang dihadapi pertengahan tahun 1960-an. Demikian pragmatisnya pendekatan yang diambil sehingga mengorbankan masyarakat lain yang juga ingin adanya demokrasi, kebebasan berbicara, dan kontrol terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.

Cara Thaksin menangani kekerasan di wilayah Pathani, bagian selatan Thailand, menunjukkan bahwa ia tak mau memberikan ruang yang terlalu besar bagi suatu perbedaan aspirasi politik. Dalam hal perang terhadap para pengedar narkotika, Thaksin juga melakukan tindakan yang sangat tegas dan banyak korban jatuh. Thaksin pun sempat dihebohkan ketika ia berencana membeli klub sepak bola Manchester United alias MU (sementara Thaksin hanya tahu nama dua pemain MU).

Kembali pada soal kekayaan yang diraih keluarga Shinawatra secara signifikan, pengumuman dari majalah Money and Banking tadi telah menunjukkan fakta yang jelas bahwa dengan berkuasanya Thaksin sebagai perdana menteri, maka perusahaan Shin telah makin kaya (walau banyak sahamnya dialihkan kepada anggota keluarga lainnya). Lalu mengapa Thaksin dan Shin Corporation masih terus memperkarakan seorang aktivis bernama Supinya Klangnarong, yang telah membuat studi soal kekayaan Thaksin lebih dulu dan kini sedang digugat Thaksin atas tuduhan mencemarkan nama baik?

Wajah Thaksin sesungguhnya bisa kita lihat bersama-sama.

Mimpi

Telah kuungsikan mimpi
Ucapkan selamat tinggal pada sawah ladang
Aku pergi ulurkan persahabatan dengan mesin-mesin pabrik,
Gedung-gedung perkantoran yang katanya menjanjikan!
Tergoda nyanyian zaman yang dibawa televisi-televisi masuk ke seluruh denyut nadiku
aliran darahku, merasuk, mengalir...... dan membangkitkan gairahku untuk bermimpi

Gemerlap kota Jakarta.............
Ya, dan aku pun terhanyut
Terus mabuk……….mabuk!
Tak berpijak lagi pada bumi dan tanah leluhur yang melahirkanku
Gelombang dan terpaan yang dimiliki Jakarta dengan iramanya
Seperti magnet bagiku.

Tapi lama-lama irama itu mengapa makin menyayat-nyayat hati, genderangnya apalagi
Melindas tanpa ampun, tanpa bulu, tanpa iba……
Buat aku yang pasrah dan bergantung begitu saja pada angin dan rintik hujan

Akhirnya, aku terseret ke lorong-lorong jalan, ke terminal-terminal, ke lampu merah-lampu merah.
Sambil jajakan dagangan, dan teriakkan harapan
Harap daganganku laku dan pulang bawa uang untuk anak-istriku
Belajar terjemahkan tiap langkahku, aduh…..mengapa?
Tangis batin menjerit-jerit!
tapi terhibur pengertian dan kesabaran
setiap kali Matahari mengunyah airmata
Air mata yang terus menghitung berapa utang terbebani

Tapi, mimpi itu tetap ada
Mimpi pijar lampu neon kota, mimpi anakku bisa sekolah
Meski ribuan rintik hujan berjuang berkali-kali menguburnya dalam tanah yang berpijak-pijak.

Mimpi yang akhirnya tercecer di setiap perempatan-perempatan jalan.
Kala lampu di situ tidak merah,
Ingin kuteriakkan pada angin, pada daun, pada aspal, pada hujan
“Aku baik-baik saja, Bung!”
Dan kulayangkan senyum pada surat-surat kabar kota, moncong2 radio
Dan stasiun-stasiun TV,
Lalu, kuceritakan kisah daun, meski pohon tak menginginkannya lagi
Ia tetap setia pada sang pohon,
Walau orang berpikir ia selingkuh pada tanah yang menerimanya iklas saat ia jatuh,
Ia tetap setia.
Untuk anak dan istriku aku adalah daun itu
Dengan caranya bersama tanah, bikin pohon terus berbuah meski ia harus mati.

Aku terus hanyut ……….mabuk……..terbang…….berlari..
Bermimpi trus saja bermimpi tentang khayalan anakku
Bermimpi saja tapi jangan pasrah
Bermimpi saja tapi jangan hanya bergantung pada angin dan rintik hujan.

(Terminal Bekasi, 19 Maret 2007)

Thursday, April 17, 2008

Sore Ini Aku ke Padewa

Kotak besi raksasa itu bergerak sangat laju. Pandangan berapa ratus meter ke depan memang tampak sangat lenggang. Hampir tak ada satu kendaraan lain yang terlihat. Tapi pandangan beberapa ratus kilo ke depan, tentunya bukan kosong tanpa tujuan. Ada sesuatu perasaan yang begitu lain. Perasaan yang amat getir dan pelit kata, tapi ranum makna.

Entah apa yang selalu membuat Ringga tertidur dengan sebelah mata. Kantuk yang begitu buas menyerangnya tak bisa dijawabnya dengan satu jawaban: tidur pulas plus ngorok yang seru, ritmis, dan melodis. Otaknya dijejali terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak kegelisahan, terlalu banyak keraguan penuh harap, tapi hanya sedikit kelegawaan.

Pagi ini, dengan segenggam niat bulat yang dikemasnya rapih, ditaruh di saku kanan kemeja kegemarannya, Ringga memboyong diri ke suatu tempat yang jauh dari rumahnya, Padewa. Ia berharap sampai di sana sebelum matahari pulang kandang.

”Nanti kalau matahari sudah meninggi, jangan lupa makan nasi kuningnya Ga! Airnya sudah Mama masukkan di kantong plastik di ranselmu”, Ringga mengingat pesan Mamanya tadi subuh sebelum berangkat. Dasar Mama, bilang ga boleh pergi, malah pakai emosi, tapi malah dibuatin bekal, geli Ringga dalam hati. Papa malah lebih konyol lagi, semalam sampe ga mau makan malam karena keputusanku untuk pergi, tapi tadi paling sibuk ngurusin cari kendaraan buatku ke terminal. Sampe minjem ojek Pak Kirmin segala lagi. Keluargaku memang sangat manis, bahkan terlalu manis untuk seorang aku yang punya ambisi kuat untuk menanggapi mimpiku.

Tapi di lain cerita, keluargaku pernah menjadi sangat tidak manis. Pahit! Tidak enak! Tidak bersahabat menanggapi keinginan yang kuutarakan tepat 2 tahun yang lalu di meja makan. Mama menjadi beradu mulut dengan Papa yang waktu itu langsung menggebrak meja makan karena aku bertahan dengan argumen-argumenku. Aku lebih gila. Aku sempat minggat beberapa hari dan menginap di rumah teman karena malas berdebat dengan kedua orangtuaku. Tapi aku tahu, aku salah kalau seperti itu. Aku takut menghadapi masalah. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah berdoa. Dan jawaban doanya sangat mengejutkan aku: Padewa.

***

Bis antarkota yang Ringga tumpangi sudah berjalan kurang lebih empat setengah jam. Ringga mulai bosan, ngelamun ngalor ngidul. Dia membayangkan bila nanti dia dengan serunya berbicara lantang di depan ribuan pasang mata suatu hari. Tapi, mendadak air mukanya berubah. Wah, nanti bisa ga ada waktu buat naik gunung bareng Doddy lagi dong, pikir dia dengan segunung kekecewaan. Terus gimana dengan tempat nongkrongnya di gang sembilan? Pasti tambah sepi setelah aku pergi, gerutu Ringga dalam hati. Lalu Ninda? Bagaimana dengan Ninda, adik kelasnya di sekolah yang ditaksir berat? Memang Ringga sudah memutuskan untuk hanya menjadi cerita penghias kisahnya saja. Bahkan, Ringga sudah menitipi puisinya untuk Ninda lewat Doddy. Tapi, ini sangat berat buat Ringga. Ninda sudah ia gantungkan sangat tinggi. Bahkan terlalu tinggi ia taruh di langit-langit kamarnya, di kolong-kolong impian termanisnya. Bayangnya ke awang-awang. Ia menelan ludah. Kering.

Sambil mengambil minum dari ransel buluknya, Ringga mengeluarkan satu amplop berukuran cukup besar. Warna hitam dan agak kaku. Dibukanya perlahan dari samping amplop itu. Ternyata sebidang karton yang dilipat dua yang senada dengan warna pembungkusnya. Itu kata-kata kenangan dari teman-teman di Parokinya. ”Maju terus, jangan kayak gue!”, tulis Amra, temannya yang paling bengal. Mereka berteman sejak latihan basket tiap minggu sudah diadakan lagi oleh Mudika beberapa bulan yang lalu. Si Arnet lebih lucu lagi, gua mau liat lo angkat tangan di pernikahan gua ye, tulisnya penuh guyon. Memang, teman-teman Ringgalah yang selalu membuatnya mantap dengan cita-citanya. Mereka bagai segenggam kekuatan yang Ringga bopong menuju Padewa. Satu kutipan yang paling membekas, ”Jangan takut! Kami ada bersamamu! Tuhanpun demikian...”, kenangnya mengeluarkan memori di kepalanya atas perkataan Romo Jack. Romo Jack nama aslinya Jackobus tapi lebih senang dipanggil Jack, lebih keren candanya. Ia mengatakannya kepadaku di malam itu, persis ketika purnama mengembang.

Seorang Bapak di sebelah Ringga yang dari tadi sejak di terminal tidur, menguap. Huah...! Ternyata dia sudah bangun. Setelah melepas kacamatanya, ia mengusap-ngusap matanya yang banjir belek. Buset! Ringga terkaget-kaget. Setelah ia perhatikan, ternyata kacamata Bapak itu tebal sekali. Mungkin kaca aquarium di rumahku kalah tebal, ledek Ringga dalam hati. Setelah itu ia kenakan lagi kacamatanya yang lebih mirip kacamata buat menyelam di laut. Ringga benar-benar tak bisa berhenti meledek Bapak itu dalam hati. Ia mencoba menahan tawanya. Bapak itu kemudian menoleh dan tersenyum kepada Ringga. Sang penerima senyum pun hanya membalas seperlunya.

Basa-basi pun dimulai.

”Sendiri mas?”

”Iya Pak.”, timpal Ringga malas.

”Mau kemana? Banyak amat bawaannya?”, tanya Bapak itu semangat.
”Ke Padewa. Di daerah Guloksawa.”

”Oh ya? Sama dong! Saya juga akan ke sana. Saya baru saja menghabiskan cuti saya selama 2 minggu. Sudah bawa semua persyaratan? Nanti Mas cari Bruder Felix saja, dia yang biasanya mengurus. Sudah tigabelas tahun saya menjadi penjaga perpustakaan di sekolah.” cerocos Bapak itu beruntun. Yang dihujani kata-kata cuma diam terbingung-bingung. Perasaan Ringga, dia belum bilang apa-apa deh. Dengan mulut ternganga dia menjawab.

”I..iya..ya Pak...!”

”Kok Bapak tau?” gantian Ringga yang semangat.

”Nebak doank mas. Hehe.. Abis tadi saya lihat Mas menanyakan alamat kepada kondektur di terminal.”
Dan obrolan pun memanjang.

***

Mata Ringga menangkap jalan di luar jendela. Jalan-jalan yang semakin mengerucut di kejauhan dan dihiasi banyak tanaman di perbukitan. Dari jauh, ia melihat segerombolan walet terbang ke Barat. Ah, hari sudah mau sore. Pikirannya kembali membebaninya. Bayangannya merantau jauh.

”Aku tak habis pikir dengan apa yang ada di otakmu!”, bentak Papanya serius.
”Aku menyekolahkanmu di tempat terbaik, agar kau menjadi orang besar. Tidak melulu Ringga yang hanya anak seorang karyawan bank!” nadanya meninggi.

”Papamu benar Ga. Mama juga lebih setuju melihat kamu suatu hari menjadi petinggi di kantoran. Lain itu, mama juga takut, siapa yang akan menjaga kamu nanti di hari tua, siapa yang memelukmu di kala kamu ketakutan. Pikirkan baik-baik Ga. Mama dan Papa tak mau melihatmu tak bahagia.”

”Ya. Jadi, mama dan papa, akan jauh lebih bahagia melihat aku yang dengan terpaksa menjalani hidupku. Ini hidupku, aku bertanggungjawab atasnya!”, pekik Ringga tak kalah galaknya sambil masuk kamar membanting pintu. BUAK!!!

Ringga kaget. Tersadar dari lamunannya. Dia teringat pertempuran hebat di rumahnya kala itu. Mungkin, bila tak selesai akan menjadi perang dunia ketiga, kenang dia dengan nakal. Setelah bulan demi bulan bertimpalan, orangtuanya baru merelakannya. Itu pun kadang sering dibumbui celotehan-celotehan yang memancing mulut untuk siap berdebat tiap makan malam.

Tapi itu dulu, ketika Ringga masih sayang melepaskan Ninda. Ketika nongkrong di ruang Mudika seharian sulit ia tinggalkan. Ketika naik gunung menjadi hasrat yang sulit dibendung. Itu semua ketika Ringga lebih memilih berhenti pada sebuah keraguan. Kini, hati Ringga sudah mantap. Tekadnya bulat. Sangat bulat dan kuat. Jiwanya berani untuk tidak berhenti pada titik keraguan saja. Ia berpikir. Ia memaknai. Sampai berani menjawab: YA!

***

Langit semakin muram. Ringga sudah tertidur barang setengah jam. Mungkin kelelahan berpikir. Pak Lewang, Bapak yang duduk di sebelahnya, menepak bahu Ringga. Ringga terbangun. Kaget. Mulut belepotan liur.

”Pakai sapu tangan ini, masih bersih.” suruh Pak Klewang.

”Hah?”

”Maksudku, lap ilermu. Sebentar lagi kita turun. Padewa di depan.” jelas Pak Klewang mantap. Dia sudah bercerita banyak soal kisah-kisah di Padewa kepada Ringga sejak tadi. Tampaknya mereka akan berteman akrab di sana.

Bis mengerem perlahan. Mereka berhenti di depan sebuah wisma besar. Sambil tergopoh membawa barang masing-masing, mereka berjalan segera.
”Kamu lihat plang itu?”, pancing Pak Klewang.
”Ya. Sekolah Seminari Atas Padewa.” eja Ringga membaca plang.
Kemudian mereka masuk. Senyum dipasang. Lega.


*Makasih buat Ines karena telah menjadi teman diskusi yang menyenangkan atas ide ini.

Petojo - Karawaci
Awal April’06

"Infotainment": Pengingkaran Fungsi Informasi?

KOMPAS Minggu, 26-06-2005. Halaman: 17

SEJAK kapan kita harus menerima diktum baru: Infotainment, yang merupakan kepanjangan dari Informasi dan Entertainment (hiburan)? Apakah informasi yang layak tampil (terutama dalam televisi, khususnya yang menyangkut dunia selebriti) adalah informasi yang sekaligus juga harus menghibur? Sejak kapan informasi harus dibuat menghibur dan harus dipadukan sedemikian, terutama dengan mengobok-obok kehidupan pribadi para tokoh yang sebenarnya juga punya wilayah privasi yang hendak dilindungi mereka sendiri. Apakah mengobok- obok kehidupan pribadi seseorang adalah sesuatu yang menghibur? Bukannya sesuatu yang malah membuat kita prihatin?

Informasi ya informasi, hiburan ya hiburan. Sulit membuat keduanya saling bersatu, atau malah membuat-buatnya seolah jadi satu. Memang pula sulit untuk menyeragamkan pola pikir penonton agar tiap item berita dianggap sebagai informasi atau hiburan. Namun paling tidak kalau dua fungsi ini dikacaukan, maka yang ada wilayah abu-abu yang tak pernah jelas, dan kalau boleh saya mengatakannya, infotainment sebenarnya mengingkari fungsi informasi, terutama hak masyarakat itu sendiri untuk menerima informasi yang mereka butuhkan.

Memang dunia televisi banyak melakukan inovasi dalam tayangan-tayangannya (karena target akhirnya adalah membuat orang tetap menonton), tetapi inovasi belum tentu berarti perbaikan, peningkatan mutu, dan lebih membuat para penontonnya lebih humanis, tapi sebaliknya tayangan televisi kita makin membuat kita muak karena yang
ditampilkan kehidupan manusia yang makin dalam (wilayah privasi dilanggar), makin jijik dilakukan makin ditonton (toh kita cuma menonton, pikir para pembuatnya), makin menampilkan kehidupan manusia yang semu, makin komersial, dan juga makin menghina akal sehat.

Sayangnya tak ada orang yang cukup kritis untuk mempertanyakan ketika istilah infotainment itu pertama kali diangkat dan dipopulerkan. Kembali pada fungsi dasar komunikasi, sebagaimana ditampilkan dalam berbagai buku teks ilmu komunikasi, maka media massa punya fungsi informasi, fungsi survival terhadap lingkungan, fungsi hiburan, fungsi pendidikan, dan juga fungsi kontrol sosial.

Jelas berbeda antara fungsi informasi dan fungsi hiburan. Orang tentu saja bisa meresepsi (menerima) dengan cara yang berbeda, tapi membuat batas antara informasi dan hiburan itu jadi satu, punya kelemahan fatal, yaitu membuat baurnya batas-batas mana yang harus dianggap informasi (di mana di dalamnya mengandung unsur akurasi, bersikap imbang, tidak bermula dari suatu prasangka), dan mana yang dianggap sebagai hiburan (membuat orang tertawa, tersenyum, lalu memikirkan arti hidup lebih dalam).

Membaurkan dua fungsi yang berbeda tadi hanya mengacaukan persepsi kita dan juga membuat masyarakat jadi bingung membedakan manakah yang "fakta" dan "fiksi"? Lihat saja televisi dalam berbagai tayangan infotainment-nya. Di samping materinya pun tak beda-beda amat antara satu stasiun dan stasiun lainnya, lalu apa yang bisa diambil dari tayangan tersebut. Bayangkan seorang yang mengaku "wartawan" (karena nyatanya sebagian besar produksi tayangan selebriti ini adalah karyawan production house dan bukan karyawan stasiun televisi, alias mereka ini sesungguhnya bukan wartawan, walau ada organisasi profesi kewartawanan yang mengakui mereka sebagai "wartawan").

Bayangkan dalam prosedur kerjanya, sebuah tayangan (saya tak mau menyebutnya sebagai berita) bisa bermula dari suatu "isu" (isu cerai, isu pisah ranjang, isu kawin lagi, isu pacar baru, isu pindah agama, dll). Tentu saja, lalu sang tokoh muncul di layar televisi untuk membantah atau membenarkannya. Jadi, di mana "berita"-nya? Mereka yang pernah belajar jurnalistik dasar, mulai dari yang cuma sehari hingga bertahun-tahun dan mendapat gelar dari bidang itu, pasti akan tahu bahwa definisi berita adalah peristiwa yang terjadi. Jadi bukan isu, yang adalah sekadar wangsit belaka.

Ini pula penyakit lama jurnalisme Indonesia yang dibawa-bawa ke tayangan infotainment ini: talking journalism (jurnalisme omongan) seolah kalau si tokoh sudah berucap sesuatu, maka itulah kenyataannya. Yang dikejar "wartawan" itu semata-mata pernyataan atau omongannya saja. Penyakit lama adalah yang disebut sebagai pack journalism (jurnalisme bergerombol). Pantas saja kalau tayangan infotainment isinya sama saja karena mereka semua pergi bergerombol, bergotong royong, dan rela meng-kloning (istilah baru lagi untuk saling mengkopi bahan yang mereka miliki, bisa rekaman dalam tape wawancara atau gambar dari kamera).

Pada dunia hiburan sekalipun bisa digarap serius jadi berita (ingat majalah Variety yang sangat bergengsi dan punya ulasan-ulasan yang dalam terhadap dunia hiburan), mengapa tak pernah ada yang menggarap tema; seberapa banyak sinetron Indonesia meniru tayangan Bollywood, apakah ada oligopoli atau monopoli produksi sinetron di Indonesia ini, atau bagaimana relasi antara artis/aktor dengan para produser, yang sebenarnya mencerminkan bentuk hubungan buruh-majikan juga. Cuma bedanya, buruh industri hiburan ini agak keren dan enak dilihat, wangi lagi. Tapi esensinya relasi buruh-majikan banyak diabaikan atau malu mengakuinya.

Masih banyak tema lain yang menarik untuk digali. Dari sisi dunia hiburan yang justru penting untuk para penonton, misalnya bagaimana sih cara kerja bagian pemasaran sinetron-sinetron tersebut, mulai dari mem-block prime time, memberi keleluasaan sepenuhnya kepada para produser untuk menayangkan apa saja, dan pula bagaimana sih relasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan berbagai tayangan macam begini? Saya akan sangat mafhum kalau para "wartawan" ini mengatakan bahwa mereka tak pernah membaca pedoman dan etika penyiaran yang dikeluarkan oleh KPI ataupun yang pernah dibuat juga oleh ATVSI (Asosiasi Televisi Swasta Indonesia).

Pertanyaan terakhir: apakah masyarakat jadi makin pintar, atau makin bodoh, atau makin terhibur setelah menonton tayangan infotainment yang makin mengepung di sekitar kita? Saya tak mau menjawab sendiri, biarlah para pembaca dan penonton televisi yang menjawabnya. Tapi saya pikir haruslah ada suatu kampanye juga untuk menyebutkan jika kita ingin memelihara akal sehat kita, baiknya kita pun diet televisi, terutama dalam tayangan infotainment macam begini (toh tak ada yang menyuruh kita menyalakan televisi 24 jam sehari), dan solusinya mudah: matikan televisi Anda.

Wednesday, April 16, 2008

Cybercrime Masih Sebagai Sebuah Ancaman

Seperti halnya di dunia nyata, dunia Cyber atau Teknologi Informasi, juga tak luput dari kejahatan. Bila di kehidupan sehari-hari kita mengenal istilah perampokan, penipuan, penjualan ilegal, maka kejahatan di dunia cyber pun memiliki istilah sendiri. Kejahatan itu dikenal dengan istilah Cybercrime. Bentuk dari kejahatan ini pun berbagai macam. Contohnya seperti melakukan hacking atau pencurian data, pembajakan situs web, pengrusakan sistem keamanan melalui virus, dan masih banyak lagi.

Contoh kasus kejahatan cyber(1) yang terjadi di Indonesia adalah Pencurian dan penggunaan account Internet milik orang lain. Salah satu kesulitan dari sebuah ISP (Internet Service Provider) adalah adanya account pelanggan mereka yang “dicuri” dan digunakan secara tidak sah. Berbeda dengan pencurian yang dilakukan secara fisik, “pencurian” account cukup menangkap “userid” dan “password” saja. Hanya informasi yang dicuri. Sementara itu orang yang kecurian tidak merasakan hilangnya “benda” yang dicuri. Pencurian baru terasa efeknya jika informasi ini digunakan oleh yang tidak berhak. Akibat dari pencurian ini, penggunan dibebani biaya penggunaan acocunt tersebut. Kasus ini banyak terjadi di ISP. Namun yang pernah diangkat adalah penggunaan account curian oleh dua Warnet di Bandung.

Contoh kasus yang lain adalah membajak situs web. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh cracker adalah mengubah halaman web, yang dikenal dengan istilah deface. Pembajakan dapat dilakukan dengan mengeksploitasi lubang keamanan. Sekitar 4 bulan yang lalu, statistik di Indonesia menunjukkan satu situs web dibajak setiap harinya.

Kasus pembajakan situs web ini lah yang biasanya menjadi salah satu jenis kejahatan di dalam penggunaan internet banking. Nasabah yang biasa menggunakan fasiltas internet banking dapat saja terjebak dengan tampilan yang sangat mirip dengan tampilan web aslinya. Bahkan nyaris tidak ada bedanya.

Tampak pada gambar bahwa tampilan ke dua web salah satu bank swasta di indonesia ini serupa. Tidak ada bedanya. Padahal. Gambar yang berada di sebelah kiri merupakan situs bank palsu (2). Perbedaannya memang tidak tampak pada tampilan namun pada alamat dari situs tersebut. Alamat dari situs yang palsu adalah http://secure.bank2home.com.cn/ib-niaga/Login.html sedangkan alamat yang asli adalah https :// secure.bank2home.com /ib-niaga/Login.html.
Perbedaannya adalah pada situs yang palsu domain nya adalah com.cn sedangkan yang asli adalah com. Perbedaan yang lain adalah "http" dan "https" . akhiran ‘s’ pada http merupakan tanda bahwa situs tersebut telah aman/ secure karena telah dilindungi teknologi enkripsi data berupa Verisign SSL (Secure Socket Layer). SSL ini merupakan lapisan pertama system pengamanan yang biasa digunakan dalam dunia perbangkan untuk fasilitas internet banking. Dengan mengunakan system ini, semua data yang dikirim dari server suatu bank ke nasabah juga berlaku sebaliknya akan mengalami proses enkripsi (acak secara system).

Kerugian dari kejahatan ini pun tidak sedikit. Nasabah yang terjebak dan data login nya diketahui, semua proses transaksi melalui internet banking akan diambil alih oleh penyadap data tersebut. Alhasil uang yang disimpan di bank pun akan dapat berpindah tangan dengan mudah.

Dalam mensikapi maraknya kejahatan di dunia maya, maka di negara-negara maju dan berkembang membuat sebuat aturan yang disebut dengan istilah CyberLaw. Negara Singapura telah memiliki The Electronic Act 1998. Ini merupakan undang-undang tentang transaksi yang dilakukan secara elektronik. Selain itu, juga memiliki Electronic Communication Privacy Act (ECPA). Negara yang juga mempunyai CyberLaw adalah Amerka Serikat. Negara Adi kuasa tersebut memiliki undang-undang yang disebut Communication Assistance For Law Enforcement Act dan Telecommunication Service 1996 (3)

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sejak sebelum tahun 1999, inisiatif untuk membuat Cyberlaw sudah ada. Namun pada pelaksanaan terus terkatung-katung. Hingga saat ini aturan tersebut masih berupa Rancangan Undang-Undang (RUU). Nama dari RUU ini pun terus berganti. Mulai dari RUU Pemanfaatan Teknologi Informasi yang lalu berubah menjadi RUU Transaksi Elekstronik. Dan akhirnya menjadi RUU Informasi dan Transaksi Elektronik (4).

Lepas dari permasalahan ada atau tidaknya cyberlaw di Indonesia, kesediaan dan kesiapan sumber daya manusia yang handal di bidang teknologi informasi, harus menjadi perhatian yang prioritas. Dengan adanya sumber daya manusia yang handal maka, perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat akan dapat ditanggapi dengan tepat dan bijak.

(1)Dikutip dari makalah Budi Rahardjo , PPAU Mikroelektronika ITB, IDCERT – Indonesia Computer Emergency Response Team, 2001-07-28. www.budi.insan. co.id

(2)http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/04/time/102059/idnews/888641/idkanal/399

(3)http://yogyacarding.tvheaven.com/cyber_crime_tugas_besar_dunia_ti_indonesia.htm

(4)www.budi.insan.co.id