Showing posts with label Ignatius Haryanto. Show all posts
Showing posts with label Ignatius Haryanto. Show all posts

Thursday, May 1, 2008

Mempertanyakan Sosok Thaksin Sesungguhnya


Judul : Thaksin: The Business of Politics in Thailand
Penulis : Pasuk Phongpaichit dan Chris Baker
Penerbit: Silworm Books, Chiang Mai, 2004
Tebal : ix + 302 halaman

MAJALAH Money and Banking di Thailand edisi bulan Desember 2004 mengeluarkan daftar 500 orang kaya di negeri gajah putih tersebut. Dari daftar itu keluarga Shinawatra, alias keluarga Perdana Menteri Thailand, menjadi keluarga paling kaya di Thailand. Selain itu, perusahaan keluarga dalam bidang telekomunikasi ini tercatat sebagai perusahaan terkaya di Thailand.

KORAN The Nation (edisi 14 dan 15 Desember 2004) yang mengumumkan hasil survei dari Money and Banking ini juga menunjukkan bahwa kekayaan perusahaan naik 70 persen dalam waktu setahun terakhir ini. Apakah semua kekayaan ini adalah berkat kedudukan yang dipegang oleh Thaksin sejak awal 2001? Banyak dugaan akan mengiyakan pertanyaan tadi, dan orang pun bisa menduga lebih jauh, Thaksin dan keluarganya akan menjadi salah satu keluarga penting dan kuat di wilayah Asia Tenggara

Nama Thaksin Shinawatra di regio Asia Tenggara jadi buah bibir karena ia membiarkan pasukan militernya membantai para demonstran di kawasan Thailand selatan awal Oktober lalu. Sementara itu, di dunia internasional, ia dianggap sama kelakuannya dengan Silvio Berlusconi, Perdana Menteri Italia, pemilik industri media besar yang jadi pemimpin politik.

Siapakah Thaksin Shinawatra sesungguhnya? Bagaimana ia memulai karier politiknya? Apakah ia sama kelakuannya dengan para jenderal yang pernah memimpin negeri gajah putih tahun-tahun sebelumnya? Dan, apakah Thaksin akan menjadi salah satu "orang kuat" Asia Tenggara berikutnya dalam deretan para pemimpin baru di kawasan ini? Buku ini mencoba untuk menguak sisi-sisi kehidupan Thaksin, sembari menaruhnya dalam konteks perubahan politik dan ekonomi yang terjadi di Thailand. Pasuk Phongpaichit, penulis buku ini, adalah guru besar ekonomi di Universitas Chulalongkorn, yang bekerja sama dengan Chris Baker, seorang penulis lepas yang juga bersama Pasuk telah menulis beberapa buku lain tentang Thailand.

***

DALAM sejarah politik di negeri ini tercatat tahun 1973 terjadi kudeta politik dari pemerintahan sipil oleh kalangan militer. Sejak itu berkali-kali para jenderal memimpin negeri gajah putih ini, dan baru pada awal tahun 1990-an tradisi militer berpolitik terhenti, dan para pebisnis yang juga tertarik masuk politik menguasai arena tersebut. Kita pun ingat, krisis ekonomi di Asia Tenggara dimulai dari kejatuhan baht Thailand, dan kemudian meruntuhkan fondasi ekonomi macan (kertas) Asia lainnya: Indonesia. Sementara kini Thailand telah melepaskan diri dari kemelut ekonominya, Indonesia masih terus bergulat antara menjadi makin mundur atau perlahan-lahan bergerak maju.

Dalam konteks kejatuhan ekonomi inilah, sosok Thaksin muncul. Mantan polisi yang juga penyandang gelar PhD dalam bidang penanganan kejahatan dari Sam Houston State, Texas, meniti kariernya jadi pengusaha. Jangan salah, awalnya ia memulai usaha banyak merugi, dan baru setelah mendapat konsesi untuk pengadaan komputer di sejumlah kantor pemerintah ia jadi pengusaha yang sukses.

Untuk terjun ke politik, walau ia pernah jadi menteri sekretaris kabinet sepulang dari studi di Amerika, ia mendirikan Thai Rak Thai, sebuah partai yang menawarkan kebijakan-kebijakan populis. Misalnya, Thaksin pernah mengatakan bahwa ia tak memerlukan gaji sebagai seorang perdana menteri, dan ia akan menyumbangkan seluruh gajinya kepada orang-orang miskin.

Ibarat menunggang ombak laut dengan papan selancar, Thaksin mendapatkan keuntungan dari laju angin yang tepat pada saat ekonomi Thailand terpuruk akhir 1990-an. Thaksin juga menunjukkan keahlian menjaga keseimbangan di atas papan selancar, saat ia mengembangkan bisnis telekomunikasinya, pada waktu bidang ini sedang meroket, dan jadi kebutuhan banyak orang untuk berkomunikasi dengan cara yang makin canggih.

Suami Pujaman Damaphang dan ayah tiga anak ini (Panthongthae, Pinthongtha, dan Phaethongtharn) selalu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang "biasa-biasa" saja yang kemudian bisa mendapatkan semua kesuksesan ini karena kerja keras yang ia lakukan bertahun-tahun. Jarang ia mengungkapkan kondisi sebenarnya bahwa ia adalah generasi keempat keluarga Shinawatra yang sukses berbisnis sejak zaman kakek buyutnya dulu.

***

KEPEMIMPINAN politik dan ekonomi Thaksin mengambil pendekatan yang pragmatis, pragmatis terhadap pasar dan juga pada persoalan politik yang ada. Kemunculan Thaksin bisa dilihat sebagai buah dari krisis ekonomi di Asia Tenggara, tetapi di sini lain juga adalah kemunculan kelompok kelas menengah- terutama kalangan pebisnis-di pentas politik, yang mencoba untuk memperbaiki negeri yang telah hancur akibat krisis ekonomi.

Di sini mungkin orang akan ingat pada Jenderal Soeharto di Indonesia yang juga menggelar kebijakan ekonomi yang pragmatis, proses pembangunan bertahap, sebagai respons atas krisis ekonomi yang dihadapi pertengahan tahun 1960-an. Demikian pragmatisnya pendekatan yang diambil sehingga mengorbankan masyarakat lain yang juga ingin adanya demokrasi, kebebasan berbicara, dan kontrol terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.

Cara Thaksin menangani kekerasan di wilayah Pathani, bagian selatan Thailand, menunjukkan bahwa ia tak mau memberikan ruang yang terlalu besar bagi suatu perbedaan aspirasi politik. Dalam hal perang terhadap para pengedar narkotika, Thaksin juga melakukan tindakan yang sangat tegas dan banyak korban jatuh. Thaksin pun sempat dihebohkan ketika ia berencana membeli klub sepak bola Manchester United alias MU (sementara Thaksin hanya tahu nama dua pemain MU).

Kembali pada soal kekayaan yang diraih keluarga Shinawatra secara signifikan, pengumuman dari majalah Money and Banking tadi telah menunjukkan fakta yang jelas bahwa dengan berkuasanya Thaksin sebagai perdana menteri, maka perusahaan Shin telah makin kaya (walau banyak sahamnya dialihkan kepada anggota keluarga lainnya). Lalu mengapa Thaksin dan Shin Corporation masih terus memperkarakan seorang aktivis bernama Supinya Klangnarong, yang telah membuat studi soal kekayaan Thaksin lebih dulu dan kini sedang digugat Thaksin atas tuduhan mencemarkan nama baik?

Wajah Thaksin sesungguhnya bisa kita lihat bersama-sama.

Thursday, April 17, 2008

"Infotainment": Pengingkaran Fungsi Informasi?

KOMPAS Minggu, 26-06-2005. Halaman: 17

SEJAK kapan kita harus menerima diktum baru: Infotainment, yang merupakan kepanjangan dari Informasi dan Entertainment (hiburan)? Apakah informasi yang layak tampil (terutama dalam televisi, khususnya yang menyangkut dunia selebriti) adalah informasi yang sekaligus juga harus menghibur? Sejak kapan informasi harus dibuat menghibur dan harus dipadukan sedemikian, terutama dengan mengobok-obok kehidupan pribadi para tokoh yang sebenarnya juga punya wilayah privasi yang hendak dilindungi mereka sendiri. Apakah mengobok- obok kehidupan pribadi seseorang adalah sesuatu yang menghibur? Bukannya sesuatu yang malah membuat kita prihatin?

Informasi ya informasi, hiburan ya hiburan. Sulit membuat keduanya saling bersatu, atau malah membuat-buatnya seolah jadi satu. Memang pula sulit untuk menyeragamkan pola pikir penonton agar tiap item berita dianggap sebagai informasi atau hiburan. Namun paling tidak kalau dua fungsi ini dikacaukan, maka yang ada wilayah abu-abu yang tak pernah jelas, dan kalau boleh saya mengatakannya, infotainment sebenarnya mengingkari fungsi informasi, terutama hak masyarakat itu sendiri untuk menerima informasi yang mereka butuhkan.

Memang dunia televisi banyak melakukan inovasi dalam tayangan-tayangannya (karena target akhirnya adalah membuat orang tetap menonton), tetapi inovasi belum tentu berarti perbaikan, peningkatan mutu, dan lebih membuat para penontonnya lebih humanis, tapi sebaliknya tayangan televisi kita makin membuat kita muak karena yang
ditampilkan kehidupan manusia yang makin dalam (wilayah privasi dilanggar), makin jijik dilakukan makin ditonton (toh kita cuma menonton, pikir para pembuatnya), makin menampilkan kehidupan manusia yang semu, makin komersial, dan juga makin menghina akal sehat.

Sayangnya tak ada orang yang cukup kritis untuk mempertanyakan ketika istilah infotainment itu pertama kali diangkat dan dipopulerkan. Kembali pada fungsi dasar komunikasi, sebagaimana ditampilkan dalam berbagai buku teks ilmu komunikasi, maka media massa punya fungsi informasi, fungsi survival terhadap lingkungan, fungsi hiburan, fungsi pendidikan, dan juga fungsi kontrol sosial.

Jelas berbeda antara fungsi informasi dan fungsi hiburan. Orang tentu saja bisa meresepsi (menerima) dengan cara yang berbeda, tapi membuat batas antara informasi dan hiburan itu jadi satu, punya kelemahan fatal, yaitu membuat baurnya batas-batas mana yang harus dianggap informasi (di mana di dalamnya mengandung unsur akurasi, bersikap imbang, tidak bermula dari suatu prasangka), dan mana yang dianggap sebagai hiburan (membuat orang tertawa, tersenyum, lalu memikirkan arti hidup lebih dalam).

Membaurkan dua fungsi yang berbeda tadi hanya mengacaukan persepsi kita dan juga membuat masyarakat jadi bingung membedakan manakah yang "fakta" dan "fiksi"? Lihat saja televisi dalam berbagai tayangan infotainment-nya. Di samping materinya pun tak beda-beda amat antara satu stasiun dan stasiun lainnya, lalu apa yang bisa diambil dari tayangan tersebut. Bayangkan seorang yang mengaku "wartawan" (karena nyatanya sebagian besar produksi tayangan selebriti ini adalah karyawan production house dan bukan karyawan stasiun televisi, alias mereka ini sesungguhnya bukan wartawan, walau ada organisasi profesi kewartawanan yang mengakui mereka sebagai "wartawan").

Bayangkan dalam prosedur kerjanya, sebuah tayangan (saya tak mau menyebutnya sebagai berita) bisa bermula dari suatu "isu" (isu cerai, isu pisah ranjang, isu kawin lagi, isu pacar baru, isu pindah agama, dll). Tentu saja, lalu sang tokoh muncul di layar televisi untuk membantah atau membenarkannya. Jadi, di mana "berita"-nya? Mereka yang pernah belajar jurnalistik dasar, mulai dari yang cuma sehari hingga bertahun-tahun dan mendapat gelar dari bidang itu, pasti akan tahu bahwa definisi berita adalah peristiwa yang terjadi. Jadi bukan isu, yang adalah sekadar wangsit belaka.

Ini pula penyakit lama jurnalisme Indonesia yang dibawa-bawa ke tayangan infotainment ini: talking journalism (jurnalisme omongan) seolah kalau si tokoh sudah berucap sesuatu, maka itulah kenyataannya. Yang dikejar "wartawan" itu semata-mata pernyataan atau omongannya saja. Penyakit lama adalah yang disebut sebagai pack journalism (jurnalisme bergerombol). Pantas saja kalau tayangan infotainment isinya sama saja karena mereka semua pergi bergerombol, bergotong royong, dan rela meng-kloning (istilah baru lagi untuk saling mengkopi bahan yang mereka miliki, bisa rekaman dalam tape wawancara atau gambar dari kamera).

Pada dunia hiburan sekalipun bisa digarap serius jadi berita (ingat majalah Variety yang sangat bergengsi dan punya ulasan-ulasan yang dalam terhadap dunia hiburan), mengapa tak pernah ada yang menggarap tema; seberapa banyak sinetron Indonesia meniru tayangan Bollywood, apakah ada oligopoli atau monopoli produksi sinetron di Indonesia ini, atau bagaimana relasi antara artis/aktor dengan para produser, yang sebenarnya mencerminkan bentuk hubungan buruh-majikan juga. Cuma bedanya, buruh industri hiburan ini agak keren dan enak dilihat, wangi lagi. Tapi esensinya relasi buruh-majikan banyak diabaikan atau malu mengakuinya.

Masih banyak tema lain yang menarik untuk digali. Dari sisi dunia hiburan yang justru penting untuk para penonton, misalnya bagaimana sih cara kerja bagian pemasaran sinetron-sinetron tersebut, mulai dari mem-block prime time, memberi keleluasaan sepenuhnya kepada para produser untuk menayangkan apa saja, dan pula bagaimana sih relasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan berbagai tayangan macam begini? Saya akan sangat mafhum kalau para "wartawan" ini mengatakan bahwa mereka tak pernah membaca pedoman dan etika penyiaran yang dikeluarkan oleh KPI ataupun yang pernah dibuat juga oleh ATVSI (Asosiasi Televisi Swasta Indonesia).

Pertanyaan terakhir: apakah masyarakat jadi makin pintar, atau makin bodoh, atau makin terhibur setelah menonton tayangan infotainment yang makin mengepung di sekitar kita? Saya tak mau menjawab sendiri, biarlah para pembaca dan penonton televisi yang menjawabnya. Tapi saya pikir haruslah ada suatu kampanye juga untuk menyebutkan jika kita ingin memelihara akal sehat kita, baiknya kita pun diet televisi, terutama dalam tayangan infotainment macam begini (toh tak ada yang menyuruh kita menyalakan televisi 24 jam sehari), dan solusinya mudah: matikan televisi Anda.

Tuesday, April 1, 2008

Ekspresi Identitas Dalam Dunia Cyber

KOMPAS Minggu, 04-06-2000. Halaman: 18

" MILIS ini untuk dipakai oleh siapa saja, pengamat burung,pemerhati, atau sekadar memperoleh, mengikuti kabar burung serta lingkungannya... konon kabarnya, kabar burung lebih asyik daripada burungnya sendiri..."

Jangan dulu berasosiasi macam-macam dengan persoalan burung dan kabar burung di atas, karena kalimat di atas tersebut dipetik dari "welcoming message" dari suatu milis para penggemar burung yang ada dalam grup diskusi eGroups.

Milis 'burung' di atas dibuat untuk mereka yang berminat untuk berbicara, berdiskusi, saling tukar informasi sebagai sesama pencinta burung. Milis para pencinta burung ini sejauh datanya tertera pada www. egroups.com & http://www. egroups.com & beranggotakan enam orang, dan milis semacam ini hanya satu dari sekian ratus (ribu?) milis yang dibuat oleh orang-orang Indonesia dengan menggunakan media internet sebagai sarana diskusi.

Jumlah kelompok diskusi ini kalau kita tambahkan dengan kelompok yang menggunakan bahasa Inggris sebagai medium utamanya, jumlahnya bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu.

Kehadiran para kelompok diskusi via dunia cyber ini merupakan suatu perkembangan yang menarik dalam melihat kemajuan teknologi komunikasi lewat media bernama internet. Bahkan kalau menurut Krishna Sen dan David T Hill dalam buku terbarunya (Media, Culture and Politics in Indonesia, 2000, lihat bab "The Internet: Virtual Politics")-dan juga seperti yang pernah dikemukakan oleh Dedy Nur Hidayat dalam salah satu artikelnya-medium internet ini punya peran besar dalam usaha para aktivis mahasiswa dan golongan kelas menengah untuk menjatuhkan rezim Soeharto. Signifikansi medium internet ini oleh Sen dan Hill dianggap setara dengan medium radio yang menjadi pelopor dan alat penyebarluasan kabar proklamasi tahun 1945.

Tulisan kecil ini sekadar memberikan feature atas perkembangan teknologi komunikasi yang kini makin dimanfaatkan sebagai ekspresi identitas dari berbagai kelompok, yang mungkin saja pada masa Orde Baru kesulitan mendapat tempat untuk berdiskusi secara bebas untuk topik-topik yang dianggap tabu oleh Negara (masalah Marxisme, Gay-Lesbian, misalnya).

Perkembangan ini bisa saja dilihat sebagai bentuk demokratisasi media dimana sensor penguasa makin sulit dilakukan oleh rezim-rezim otoriter, tetapi juga bisa juga kita khawatir kalau melihat dalam kerangka besar bahwa industri media, termasuk internet, masuk dalam kekuasaan kapitalisme global, yang kini hanya dimiliki oleh tinggal beberapa aktor besar dalam industri ini. Kita ingat saja kejadian awal tahun 2000 ini yaitu merger antara media internet American On Line (AOL) dan Time Warner yang bernilai $350 milyar. Rekor baru dalam nilai merger dalam industri media sebelumnya antara penggabungan stasiun televisi CBS dengan Viacom (pemilik MTV) senilai $37 milyar.

Sementara itu jumlah pengguna media internet di Indonesia masih sangat terbatas (cuma 0,4% dari total populasi Indonesia, lihat Kompas 6 Mei 2000, "Masa Depan ada di Jaringan Internet", atau kira-kira sama dengan 8 juta orang), jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dari data International Data Corporation, di Asia Tenggara pengguna terbesar dibandingkan dengan rasio penduduknya adalah Singapura (17,9%), Malaysia (5,6%), dan Thailand (2%).

Wacana alternatif
Kelompok-kelompok diskusi dalam dunia cyber yang jauh berkembang dalam dua tahun belakangan ini, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dengan hadirnya berbagai wilayah publik yang bisa dijadikan wacana yang tidak tergantung oleh wacana dominan, seperti misalnya yang ditampilkan oleh surat kabar, majalah dan televisi.

Pembicaraan yang ada di milis grup ini bisa sekadar obrolan santai, saling tukar menukar isu, memberi informasi, saling berkenalan, atau bahkan berdiskusi serius, terutama perkembangan muktahir dalam bidang ekonomi dan politik di Indonesia, misalnya. Bahkan tak jarang dalam salah satu posting milis-milis ini (terutama yang berdiskusi soal politik) ada juga ajakan untuk melakukan demonstrasi untuk memprotes suatu kebijakan pemerintah. Bahkan kita masih ingat dalam beberapa bulan terakhir ini, hasil dari komunikasi via internet ini telah menghasilkan suatu demonstrasi-demonstrasi berskala global kepada rezim ekonomi politik dunia yang dikuasai oleh sejumlah negara industri sambil didukung oleh beberapa agen keuangan multilateral dunia (IMF & World Bank). Kejadian di Seattle pada awal Desember 1999.

Haruslah diakui bahwa dengan keberadaan internet ini telah muncul suatu komunitas tersendiri yang terbagi-bagi atas dasar identitas yang mereka pilih. Mungkin ini juga semacam imagined communities (konsep yang pertama kali diperkenalkan Ben Anderson dalam menjelaskan soal nasionalisme tahun 1983) dengan pengertian lebih diperluas dan memasukkan ide tentang teknologi komunikasi
muktahir di dalamnya.

Kalau dalam penjelasan soal nasionalisme, Ben menyebut medium surat kabar sebagai pemersatu dari komunitas imaji tersebut, namun dengan perkembangan yang canggih dari teknologi komunikasi, medium internet bisa menghasilkan suatu komunitas baru yang tersendiri, yang memiliki berbagai pilihan identitas dan itu sama sekali yang menyangkut soal nasionalisme. Komunitas ini memiliki beragam pilihan identitas dalam saat yang bersamaan, dengan masing-masing kelompok bisa mencapai jutaan anggota, ada yang mencapai ribuan orang, tetapi sebaliknya ada juga yang cuma beranggotakan puluhan orang atau di bawah angka 5 orang misalnya.

Dari ratusan milis yang dikelola oleh para warga Indonesia bisa dikategorikan sebagai kumpulan para professional (jurnalis misalnya, lewat milis Aliansi Jurnalis Independen, serikat jurnalis), atau kumpulan kelompok minoritas (milis tionghoa, milis gay-lesbian misalnya), kelompok ideologi politik (indo-marxist, misalnya), kumpulan yang berhobi sama (milis mancing, musik Indonesia, jazz Indonesia, misalnya),kumpulan mereka yang sedaerah asal (Sukoharjo, Medan, dan lain-lain), kumpulan alumni suatu lembaga pendidikan (mulai dari alumni smp-sma-hingga universitas, baik dalam maupun luar negeri) ataupun kumpulan atas dasar minat tertentu (agama, musik, film, motor, basket dan lain-lain), bahkan beberapa milis ada yang dibuat khusus untuk suatu keluarga besar (misalnya milis Krapyak, yang berada di bawah Yayasan Sapardi Dwijosastro). Tiap milis yang didirikan mendasarkan diri pada suatu identitas yang mereka sepakati.

Identitas di sini yang menjadi pembeda antara satu komunitas dengan komunitas lainnya, dan setiap orang bisa punya banyak identitas, ia bisa seorang lulusan dari Universitas Indonesia, sekarang menjadi pengacara, suami dan ayah dalam sebuah keluarga, punya hobi mancing, ikut dalam milis yang mendiskusikan soal sufi tetapi ia juga tertarik dengan musik jazz.

Konflik yang tak berdarah
Dalam milis-milis ini tentu saja ada pertentangan pendapat, ada juga mungkin konflik identitas, ada ketidaksepahaman. Namun konflik-konflik atau perbedaan pandangan dari para anggota milis ini tentu saja tidak lalu menjadi suatu kepanjangan tangan dari konflik yang berdarah. Paling banter adalah mencaci lawan bicara, atau membalas argumen seseorang dengan opini yang lain. Namun biasanya setiap milis memiliki moderator atau administratur yang akan mengatur lalulintas pembicaraan, dan kala dianggap diskusi sudah melenceng jauh atau jauh dalam maki-makian, biasanya si moderator akan mengingatkan penulisnya.

Setidaknya konflik seperti ini sehat saja untuk membiasakan para anggota milis untuk beradu pendapat, tanpa harus jatuh dalam sikap emosional yang diikuti dengan kegiatan fisik untuk melukai lawan bicaranya. Misalnya dalam milis madia-info (Madia= Masyarakat Dialog Antar Agama) pernah ada debat yang menarik ketika membahas soal gerakan Jihad di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini, atau juga debat soal Yesus sebagai fenomena sejarah yang kerap kali tak cocok dengan gambaran seperti yang ada dalam kitab suci, atau juga perdebatan soal kerusuhan di Ambon. Sekeras apa pun argumen dilontarkan, terserah kepada masing-masing anggota milis untuk menilai mana yang terbaik untuk mereka. Milis madia-info ini dibentuk pada 22 Oktober 1998 dan beranggotakan 83 orang (hingga bulan Mei 2000) dan termasuk milis yang aktif berdiskusi dengan rata-rata pesan yang tersirkulasi per bulannya mencapai 200-300 pesan dalam lima bulan terakhir ini.

Konflik dalam bentuk yang lebih sederhana bisa saja terjadi dalam dunia musik misalnya. Umpama ada seorang fans fanatik dari grup band Rolling Stones berkampanye untuk publik mengakui kebesaran band tersebut. Tetapi tentu saja tak semua bisa dipaksa untuk menyukai Rolling Stones. Generasi muda angkatan 90-an tentu lebih kenal dengan nama-nama group band seperti Counting Crows, Pearl Jam, Guns n' Roses atau Kid Rock.

Grup diskusi sebagai wadah ekspresi
Harus diakui menjelang kejatuhan Soeharto pada bulan Mei 1998 intensitas pemakaian internet sangat besar, dan bahkan sementara pihak ada yang menyebut bahwa kejatuhan Suharto adalah kejatuhan yang disebabkan oleh revolusi yang disusun lewat internet. Perdebatan soal kondisi politik dalam negeri tetap saja menjadi bahan pembicaraan yang tak habis-habis, apalagi dengan melihat adanya polarisasi kekuasaan yang tajam di antara kalangan pendukung dan penentang Presiden Abdurrahman Wahid.

Akan tetapi di samping pembicaraan tentang politik, ada juga berbagai agenda lain yang juga dibawakan oleh berbagai kelompok yang memiliki identitas lain, misalnya saja milis yang dimiliki dan dikelola oleh beberapa kelompok minoritas politik selama ini. Salah satu kelompok minoritas itu misalnya, kelompok masyarakat Tionghoa yang memiliki milis sejak tanggal 15 November 1998 dan hingga kini memiliki 57 orang anggota. Dari catatan yang disebut dalam halaman muka milis ini, frekuensi korespondensi yang paling tinggi adalah antara bulan Juli - September 1999. Misalnya salah satu topik diskusi yang berkembang di situ adalah soal istilah antara "cina", "mandarin", atau "hoa yu" atau "gou yu" guna mengidentifikasi diri mereka, berikut dengan sejarah masing-masing kata tersebut. Lalu juga perdebatan soal "ketionghoaan" itu sendiri sebagai identitas diri dan kelompok.

Kelompok minoritas lain yang juga menggunakan internet sebagai wahana diskusinya adalah kelompok gay dan lesbian. Setidaknya ada dua milis yang memberikan tempat untuk berdiskusi soal kehidupan gay dan lesbian di Indonesia, dan keduanya dikelola oleh kelompok Gaya Nusantara yang dipimpin oleh Dede Oetomo.

Menarik sekali melihat perkembangan besar yang terjadi dalam dunia komunikasi via internet, yang bisa jadi wadah untuk menimba ilmu, mencari teman, berdiskusi, mendapat informasi atau bahkan berkomunikasi dengan para tokoh misalnya.

Fenomena di atas baru sekadar menggambarkan perkembangan dari grup diskusi di internet, namun masih harus dilihat lagi apakah misalnya fenomena merebaknya berbagai grup diskusi ini akan memberi perkembangan tertentu bagi kemajuan bangsa misalnya. Karena media ini pun jika dipakai secara optimal bisa menjadi alat untuk memungkinkan komunikasi jadi lebih setara, demokratis dan lebih murah.

Monday, March 17, 2008

Pers, Perempuan dan Privasi

KOMPAS Senin, 28-07-2003. Halaman: 45

Artis cantik Bella Saphira luar biasa mengamuk ketika ia ditanyai oleh seorang wartawan hiburan, apakah betul bahwa ia juga berprofesi sebagai wanita panggilan. Peristiwa ini terjadi awal Juli lalu ketika Bella menghadiri sebuah acara dan ditemui sejumlah wartawan. Saat itu beberapa wartawan menanyakan padanya soal hobi barunya menekuni bela diri Aikido. Tapi, tiba-tiba saja seorang wartawan "dari tabloid terbitan Jakarta" bertanya, "Maaf Bel, katanya kamu bisa di-booking sama om-om. Komentar kamu gimana?"


Bella yang langsung berubah raut muka memarahi wartawan itu, "Gila, kok bisa kamu tanya seperti itu! Enggak sopan banget! Saya ini bukan pemain baru, Mas! Kalau mau tanya baik-baik dong,enggak sopan banget pertanyaannya!" (Warta Kota, 8/7).

Sebelumnya, selebriti perempuan lainnya, Sarah Sechan, juga mengatakan sangat terganggu privasinya saat ia melangsungkan pernikahan, dan ia banyak menolak pertanyaan wartawan pada dirinya. Apalagi lalu muncul gosip bahwa Sarah menikah karena ia sudah berbadan dua sebelumnya. Mantan VJ MTV yang kini menjadi orang media,
juga sebagai wakil Pemimpin Redaksi majalah Cosmo Girl, menyatakan bahwa dirinya sangat ingin memelihara hidup privasi. Ia dan pihak manajemennya sampai harus menggelar konferensi pers tersendiri,menjelaskan sikap mereka kepada para wartawan.

Hampir setiap hari masyarakat ditaburi dengan berbagai tayangan televisi soal kehidupan selebriti yang berkisar dari soal pacaran, perkawinan, kelahiran anak, perceraian, dan kematian. Belum lagi puluhan tabloid di sekitar yang menjajakan banyak hal yang berkaitan dengan dunia selebriti, seolah-olah selebriti itu adalah dunia yang perlu dicermati sedemikian detail tiap sisi kehidupannya dan perlu
jadi panutan bagi para pembaca atau penontonnya.

Memang ada hukum besi di antara orang-orang pers bahwa salah satu syarat berita yang layak adalah jika menyangkut tokoh penting (name makes news, begitu doktrinnya). Kalau definisi layak berita salah satunya adalah menyangkut soal nama-nama besar, memang menurut sejumlah orang media, dua kasus yang diangkat dalam permulaan tulisan, masuk dalam kategori berita pula. Mereka-mereka ini akan berkilah, "Kalau toh si sumber menolak tudingan tersebut, itu pun sudah jadi berita."

Hukum besi macam ini sendiri memang harus dicermati dengan kritis, seberapa jauh sebuah institusi bernama media, dan mereka yang berprofesi sebagai jurnalis punya hak untuk masuk dalam kehidupan pribadi seseorang (terutama karena dia adalah orang terkemuka, atau ternama, atau seorang selebriti). Rasanya persoalan ini jarang
diangkat ke permukaan dan penulis merasa sudah waktunya ada waktu yang sedikit dicurahkan untuk membicarakan masalah ini.

Beberapa minggu lalu, Komisi I DPR mengundang sejumlah artis ke DPR dan dari pertemuan itu muncul keluhan dari para artis bahwa media banyak membulan-bulani mereka dengan berbagai pemberitaan yang sudah mengoyak hidup pribadi seorang artis. Tak kurang entertainer seperti Dedy ÆMiingÆ Gumelar dan Ayu Azhari pun mengeluhkan kehidupan pribadi mereka yang disobek-sobek dengan aneka berita di media massa.

Leviathan yang menghibur
Fenomena kehidupan artis yang diangkat ke permukaan lewat media massa bukanlah perkara baru. Itu sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu, dan sebagaimana definisi berita diungkap di atas, maka sejak pemberitaan dijadikan industri hal tentang kehidupan artis pun menjadi akrab dengan pembacanya. Namun, fenomena makin maraknya
kehidupan pribadi diangkat ke permukaan, tak bisa dilepaskan dari maraknya industri media di Indonesia selepas represi puluhan tahun di bawah rezim Soeharto.

Memang membaca kehidupan artis-yang dibayangkan masyarakat sebagai dunia gemerlap, penuh kecantikan, kegantengan, dan kekayaan materi-sangatlah menarik. Masyarakat selalu ingin tahu macam apa kehidupan pribadi seorang artis yang di layar kaca tampil dengan sangat meyakinkan dan tampil sangat cantik. Memang, salah satu fungsi
media ketika ia dirumuskan adalah juga untuk memberikan hiburan kepada masyarakat.

Namun, masalahnya ada dua hal. Pertama, seberapa jauh institusi media dan profesi wartawan bisa masuk dalam urusan-urusan kehidupan pribadi (dalam hal ini tidak hanya menyangkut para artis, bisa para pejabat, atau politisi) serta apa pula urusannya untuk mengurusi kehidupan pribadi seseorang. Kedua, walaupun berita-berita tersebut
dikategorikan menghibur daripada memberikan informasi-apalagi pendidikan-sebagai fungsi lain dari media massa, namun apakah benar bahwa masyarakat melulu membutuhkan hiburan dan perlu terus dihibur setiap hari sehingga melupakan banyak hal lain yang lebih penting dalam kehidupan mereka.

Dalam kaitan dengan hal terakhir ini, dunia hiburan bisa menjadi semacam "leviathan baru", "leviathan yang menghibur", yang mencengkeram masyarakat dengan hiburan setiap hari tanpa sadar bahwa ia telah melupakan banyak hal yang lebih penting dalam kehidupan ini. Penulis pernah mengungkapkan gagasan ini dalam tulisan lain ("Leviathan yang Menghibur", sisipan Bentara, Kompas, 2 Agustus 2002).

Memang situasi ekonomi terpuruk, pejabat tak habis-habisnya korupsi, anggota DPR lebih pikir diri sendiri daripada yang mereka wakili, dan buat sebagian orang ini menjadi legitimasi bahwa masyarakat kemudian perlu dihibur dengan berbagai tayangan tersebut. Namun apakah betul argumen ini bisa diterima?

Jangan-jangan ini hanya sekadar argumen yang dipakai mereka-mereka yang selama ini menangguk keuntungan dari gunjang-ganjingnya kehidupan para artis, melempar gimmick kepada artis agar terus bisa menulis atau menyiarkan sesuatu dari dunia tersebut. Kecurigaan lain yang perlu diwaspadai adalah maraknya intrusion of privacy ini lahir
dari persaingan antarindustri media pula. Semakin heboh, semakin banyak yang akan membaca atau menonton. Kehidupan pribadi para artis jadi komoditas yang enak dan laku dijual.

Tapi masalahnya, kenapa hanya perempuan yang lebih disoroti kehidupan pribadinya? Kenapa menjadi sangat penting untuk media tertentu dengan siapa sang perempuan ini berjalan, dengan siapa ia bergandengan tangan, dengan siapa ia makan bareng, atau dengan siapa ia tidur bareng?

Tayangan atau bacaan seperti itu hanyalah mengukuhkan stereotyping media terhadap perempuan yang tidak adil, tidak seimbang, dan menjadikan perempuan korban dalam sorotan media. Bias jender macam begini bukanlah baru, tapi justru perkembangan menunjukkan bahwa fenomena ini makin menekan para perempuan dan mengukuhkan citra dominasi atau tirani media atas perempuan khususnya dalam dunia hiburan. apitalisasi industri media pada akhirnya menjadi latar makin terpinggirkannya para perempuan dalam media.

Menentukan batas
Raymond Wacks, seorang guru besar hukum di University of Hongkong, menulis buku yang sangat menarik dalam kaitannya dengan kasus ini, Privacy and Press Freedom (Blackstone Press, 1995). Dengan mengutip C Munro, Prof Wacks menyebutkan sejumlah pemikiran yang perlu dipertimbangkan ketika media hendak mengangkat hal-hal pribadi
dari para selebriti kita, dengan terutama mengaitkannya dengan kepentingan publik.

Munro mengajukan sejumlah pertanyaan yang menantang: "Seberapa jauh pengaruh dari kecenderungan perilaku seks seorang dokter terhadap legitimasi sang dokter di mata pasiennya? Seberapa jauh pengaruh dari seorang guru sekolah yang memuja setan terhadap legitimasinya sebagai seorang guru di mata orangtua murid? Apakah ada
urusan publik yang dibahas ketika media menyuguhkan perilaku sesungguhnya dari para artis atau olahragawan, yang sering kali menjadi idola dari ribuan penggemarnya? Dan bisa pula seorang anggota parlemen mempunyai affair dan karenanya ia berbohong pada keluarganya seberapa jauh hal ini berpengaruh pada kepemimpinannya dalam parlemen
tersebut?

Sangat jelas di sini, perlu sangat dibedakan mana yang merupakan kepentingan umum dan mana yang merupakan kepentingan pribadi. Dan untuk itu media harusnya lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi sang media.

Kalaupun seorang Bella Saphira adalah juga seorang wanita panggilan, so what? Kalaupun seorang Sarah Sechan telah hamil sebelum ia menikah, so what? Adakah kepentingan umum yang terlanggar di sana? Yang terjadi justru adalah kepentingan pribadi dari contoh-contoh ini yang menjadi sangat terganggu.

Buat kalangan media sendiri, praktik seperti ini menunjukkan media kurang peka membedakan mana soal yang bisa dikonsumsi umum dan mana yang merupakan hak pribadi sang selebriti. Bukan tak mungkin, sang selebriti menuntut balik pada media tersebut atas urusan pelanggaran hak pribadi.

Masyarakat pun rasanya perlu lebih jeli dalam menyeleksi konsumsi media yang ada di sekitar kita dan tak menelannya bulat-bulat. Apakah persoalan pacar baru seorang artis seksi lebih penting daripada masalah sejumlah bupati yang menjadi terdakwa dalam kasus korupsi di berbagai daerah? Apakah soal perselingkuhan aktor ganteng dan keren lebih penting dari soal kegagalan panen para petani di suatu tempat? Atau betulkah masyarakat lebih memilih mengonsumsi berita tentang pesta ulang tahun ratusan juta dari seorang aktor muda daripada ratusan juta yang sama yang bisa membangun puluhan sekolah untuk daerah konflik seperti di Aceh, misalnya. Berita-berita yang seolah-olah menghibur itu sering kali ibarat candu, terasa nikmat sehingga melupakan kita dari berbagai soal serius yang seharusnya memang kita hadapi. Itulah tesis yang dikemukakan oleh Neil Postman ketika ia menulis buku Amusing Ourselves Till Death (1985). Apa kita memang mau terbius terus-menerus dengan hiburan-hiburan di sekitar kita? (*)

Ignatius Haryanto
Wakil Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan di Jakarta

Aku Selebriti, Maka Aku Penting

KOMPAS Minggu, 25-01-2004. Halaman: 17

ASPEK mana kehidupan artis yang tak luput digali oleh media massa? Semuanya telah habis ditumpahkan kepada para pembaca atau penonton media di Indonesia. Mulai dari soal perkawinan, perceraian, isu perselingkuhan, soal kekerasan dalam rumah tangga, soal tiruan wajahnya, dan lain-lain. Selain itu pula, dalam tampilan di televisi, amat mudah kita menemui berbagai wajah selebriti dalam berbagai tayangan lain, mulai dari soal masak-memasak, tebak-tebakan berhadiah puluhan hingga ratusan juta rupiah, membahas kehidupan sehari-hari, hingga pada artis yang memberikan tips menghindari kejahatan menghampiri dirinya.

Infotainment. Itu kata kunci yang dipakai oleh berbagai production house ataupun tasiun televisi. Maksudnya hendak mengatakan bahwa informasi dan entertainment hiburan), bukanlah dua entitas yang terpisah, namun dalam rumus ini, keduanya aruslah menyatu. Seolah mau menekankan bahwa "informasi haruslah menghibur,karena alau informasi terlalu serius, tak akan yang mendengarkan".

Cobalah menonton acara Asal (Asli tapi Palsu), dan kita akan mendengar chorus bagaimana para peserta yang wajahnya mirip dengan seorang selebriti tertentu, berharap ia akan bisa jadi ngetop karena kemiripannya tersebut. Apa pun profesi yang telah disandangnya sekarang seolah tak cukup kalau ia pun tak jadi sengetop selebriti
yang mirip dengannya. Padahal banyak terjadi si "kembaran" sang selebriti itu usianya lebih tua dari sang selebriti itu sendiri. Jadi sebenarnya siapa mirip dengan siapa?

Tak ada yang salah dengan orang yang punya keinginan jadi ngetop, atau menjadikan dirinya sebagai selebriti yang akan dikagumi orang ketika berjalan, dikomentari ketika sedang berkeliling-keliling di mal. Banyak orang berlomba-lomba untuk tampil bak selebriti, atau menjadikan diri sebagai selebriti, lewat cara apa pun itu.

Dalam situasi seperti ini, tak salah untuk tetap mengingat apa yang dikemukakan oleh Neil Postman ketika ia memperingatkan bahaya dari industri televisi yang secara terusmenerus menghibur masyarakatnya hingga mati. Tentu saja Postman mungkin berlebihan ketika ia mengambil istilah mati, sebagai batas ketika manusia tak lagi dihibur oleh dunia televisi, tapi istilah apalagi yang lebih cocok dari itu?

Dunia televisi memang punya logika sendiri. Ia berkesan instan, yang penting adalah tampilan, performance di televisi (peduli apakah punya bobot atau tidak), pun kalau sekadar berucap "pokoknya acaranya oke banget", yang penting seseorang telah mengucapkannya, seraya kamera menyorot pada wajahnya. Apakah deskripsi lebih lanjut
dari "oke banget" tadi, tak penting, toh kamera sudah akan menyorot ke tempat lain lagi. Apakah ungkapan "oke banget" tadi mencerminkan kemiskinan bahasa atau cara pengungkapan, itu tak soal juga, karena toh bukan itu yang penting. Yang penting adalah wajah berseri, tepukan penonton, betapapun tololnya jawaban yang diucapkan.

Dalam film Confession of the Dangerous Mind, digambarkan seorang produser acara televisi yang merangkap profesi sebagai pembunuh bayaran CIA, dan dalam memproduksi tayangannya, ada pernyataan "makin rendah selera yang ditawarkan kepada penonton, makin laku acara tersebut".

Tayangan infotainment ada di seluruh saluran televisi Indonesia.Dalam seminggu, kita akan mendapatkan tayangan infotainment sebanyak puluhan jam, bahkan dalam masa ketika televisi swasta harus beroperasi 24 jam, sejumlah tayangan infotainment pun di-rerun pada pukul 04.00 pagi! Padahal kalau dilihat isinya, antara satu tayangan dengan tayangan lainnya tak jauh berbeda materinya.

Sebuah kelompok pemerhati media di Amerika bahkan tiap tahun membuat list "junk food news", yang ditujukan pada hiruk pikuknya media terhadap sejumlah kasus tertentu yang menyangkut dunia para selebriti. Kelompok ini merasa bahwa berita yang telah dimuat oleh media sudah sangat berlebihan. Misalnya dalam kategori ini adalah,
segala hal yang berkaitan dengan diri seorang David Beckham, pemain sepak bola asal Inggris, dan istrinya, Victoria Posh, yang mantan anggota grup Spice Girls, seakan tak pernah ada hentinya.

Dalam diri saudara tuanya, media cetak, selalu ada halaman yang memberi porsi soal kehidupan artis atau selebriti lainnya. Bahkan tabloid yang mengurusi soal beginian pun tak sedikit, walau sebagian dari mereka sangat khawatir dengan kehadiran infotainment di televisi, yang sedikit banyak akan memukul segmen pembaca mereka.
Seolah-olah para pengelola acara infotainment ini hendak mengatakan bahwa para artis dan kehidupannya ini adalah yang paling penting, sehingga kita-para pemirsa-harus memperhatikan setiap detil kehidupan sang artis. Si artis bisa jadi panutan moral, karena ia bijak berumah tangga, bisa merawat tubuh dan muka dengan piawai, pandai memasak, membagi tips melawan penjahat, membagi tips untuk memelihara hewan dan lain-lain. Seolah-olah manusia biasa tanpa predikat selebriti jadi tak penting untuk tampil di media.

Memang dalam dunia jurnalisme dikenal salah satu syarat berita adalah soal prominence (keterkenalan sang sumber). Tapi dengan semata-mata menekankan pada unsur prominence dalam pembuatan berita atau infotainment tadi, maka unsur lain sebagai syarat berita menjadi kabur. Tak penting lagi mempertimbangkan soal signifinance dari kejadian yang dialami sang artis bagi pembacanya, tak penting pula apakah memang ada suatu fenomena yang baru terjadi, atau sekadar mengulang-ulang pola lama (pacaran, selingkuh, menikah, bercerai, menggugat di peradilan). Atas nama prominence-nya sang artis, segala aspek dunia artis menjadi ô"berita" di berbagai tayangan infotainment. Tak peduli apakah melanggar kehidupan pribadi si artis atau tidak, tayangan ini akan terus muncul.

Judul tulisan di atas mempelesetkan adagium dari filsuf Rene Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada), dan adagium tadi sengaja dipelesetkan agak jauh, untuk menaruh dalam konteks kehidupan artis dan kehidupan media di Indonesia. Intinya sama, soal eksistensi manusia, dan penanda apa yang dipakai untuk menyebut
eksistensi dirinya; soal berbelanjakah, soal berpikirkah, soal berpakaiankah, atau soal dirinya masuk dalam liputan media massa atau tidak.

Dunia ini seolah ekstravaganza dengan parade keriuhan tanpa henti, di mana artis cantik dan ganteng satu per satu terus bermunculan, membentuk barisan tanpa putus. Kita pun dihibur dan dihibur dan dihibur. Suatu yang remeh temeh mendadak jadi sangat
penting (cara memoleskan lipstick di bibir, cara menghindari pencopetan handphone di perempatan jalan) karena diangkat oleh televisi, dan sebaliknya sesuatu yang betul-betul sangat penting (eksploitasi artis oleh kalangan partai politik, artis yang jadi
selingkuhan para pejabat, hingga ke soal penggusuran tiada henti) tak pernah jadi agenda serius untuk tampil.

Prominence di atas segalanya. Tak heran jika banyak orang berlomba-lomba jadi prominent people, alias menjadi selebritas, tanpa mempertimbangkan apakah yang prominent tadi memiliki bobot atau tidak. Makin heboh penampilan, makin akan diliput media massa. Media massa kita memang sangat menghibur kehidupan kita.

Ignatius Haryanto
Wakil Direktur LSPP di Jakarta